Sarjana Lima Juta

CERPEN OKY E. NOORSARI

Dengan kesopanan yang tidak kubuat-buat, aku mohon diri. Tentu saja aku hanya perlu menguatkan bualan mamaku. “Permisi Tante, saya ada janji dengan dosen pembimbing.”

Ahaha, sebetulnya aku tidak sepenuhnya berbohong. Aku memang ada janji dengan dosen pembimbing. Tepatnya ‘dosen pembimbing’, konsultan tesisku. Orang yang kuakui sangat jenius karena sanggup menyiapkan keseluruhan tesisku.

Bukan hanya judul, bukan cuma proposal, seluruhnya! Laki-laki ini bahkan sudah menemaniku sejak masa pengerjaan skripsi, empat tahun yang lalu. Layaknya perjodohan, Mama yang mempertemukan kami sebelumnya.
“Lit, kamu serius mau garap sendiri skripsimu itu?

Tahun keempatmu sudah hampir selesai, loh! Anak teman-teman Mama nggak ada yang lulus sampai lima tahuuun!” Mama histeris saat terakhir kali menanyakan kabar skripsiku yang lagi-lagi ditolak pengajuan judulnya.

Teman-teman Mama. Begini amat hidup yang harus aku jalani. Bahkan orang-orang yang tak punya hubungan darah denganku saja bisa turut mengatur hidupku. Anak teman-teman Mama sekolah di sana, kamu juga harus sekolah di sana. Anak teman-teman Papa ambil jurusan anu, kamu juga harus ambil jurusan itu.

Aku sendiri heran, kenapa aku masih ingin melanjutkan hidup hingga saat ini. Mungkin, aku hanya ingin tahu, semua ini akan berakhir seperti apa? Makanya aku harus tetap hidup untuk mengetahuinya.

Esok harinya Mama membawa seorang pemuda ke rumah. Kutaksir dia hanya lebih tua tiga tahun dariku. Namun ajaibnya, dia tahu semua alasan penolakan judul-judul skripsiku sebelumnya. Seolah dia dosen pembimbing sejatiku. Aku manggut-manggut saja waktu laki-laki itu mengatai penelitianku tidak punya kerangka berpikir yang jelas.

Lihat juga...