Sarjana Lima Juta

CERPEN OKY E. NOORSARI

Ya sudah tentu, aku kan hanya mencomot-comot dari sembarang skripsi yang aku ambil asal saja dari perpustakaan.
Sesudahnya, aku hanya perlu patuh membuat janji-janji ketemu dengan dosen pembimbingku. Namun sebelumnya aku sudah menjalani bimbingan privat dengan Mas Ye, konsultan skripsiku itu.

Aku harus sudah menjiwai materinya, hafal luar dalam, sebelum menghadap dosen pembimbing. Mas Ye bahkan memberiku daftar pertanyaan yang mungkin akan dilontarkan oleh dosen pembimbingku.

Tentu saja dia sudah menyiapkan jawaban untuk kuhafalkan. Entah ketika itu berapa nominal yang Mama bayarkan sampai Mas Ye memberi layanan se-excellent itu.

Hasilnya? Mama cukup puas dengan nilai skripsi A minus, IPK 3,25 dan waktu kuliah yang tidak sampai genap lima tahun.
***
“Mas, pernah tidak, kamu merasa profesimu ini salah?” Mungkin aku bertanya karena ingin mencari teman galau. Entah bagaimana, meski yang kami makan sama, sumber harta yang menghidupi kami juga sama, tapi aku tidak sepenuhnya serupa dengan orang tuaku. Rasa bersalah yang aku abaikan acap berbuah mimpi buruk di tengah malam.

“Mas.” Aku meninggikan suara karena setengah menit berlalu tanpa jawaban darinya.

Mas Ye menoleh, ekspresinya terlihat kesal. “Tidak usah bertanya aneh-aneh. Aku sedang konsentrasi.”

Bertahun-tahun menjadi ‘partner in crime’ mengubah hubungan kami menjadi lebih akrab dan tak canggung lagi ber-aku-kamu. Sepertinya Mas Ye cocok bekerjasama denganku. Oh, bukan. Tepatnya dengan Mama.

Aku mendengus keras, pura-pura merajuk. Mas Ye melirik tajam lalu mengempaskan punggung pada sandaran kursi.

“Ya ampun, Lit! Apa yang salah dengan bekerja keras mencari uang? Aku tidak mencari uang dengan mencuri atau upaya cuma-cuma lainnya.”

Lihat juga...