Sarjana Lima Juta

CERPEN OKY E. NOORSARI

Ow, dia meledak. Gerak-geriknya tampak gusar. Dia seperti ingin memakiku, tapi urung. Mungkin dia teringat mamaku, yang sudah banyak memberinya uang.

Mungkin saja dia khawatir, kalau aku dimarahinya, bisa-bisa neuron-neuron otakku lambat laun akan mati dan aku akan semakin bebal.

“Aku menjual jasa, Lit. Lalu kalian membelinya. Sudah!”

Baiklah, kusudahi perkara dosa ini.

Mas Ye merapikan tumpukan kertas yang baru diambilnya dari mesin cetak, lalu memberikannya padaku.
“Sekarang, kuasai ini!”

Seperti biasa, dia memintaku membaca dulu, lalu esok harinya aku harus menyediakan waktu sehari penuh di kantornya, untuk ‘bimbingan’.
***
Kuulangi lagi menekan nama Mas Ye di layar ponselku. Masih sama, ‘nomor yang Anda tuju berada di luar area’. Pesan singkat yang kukirimkan juga tidak terkirim. Tidak biasanya dia seperti ini. Akses komunikasi Mas Ye selalu tersedia dan dia merespon dengan cepat. Service excellent, bukan? Namun, sedang di mana dia sekarang?

Mama sudah memintaku untuk cepat pulang, tapi aku berkeras berkelit. “Aku ada perlu sebentar, Ma.” Pasti Mama sudah menyiapkan selebrasi berlebihan setelah aku mengabarkan kelulusan sidang tesisku siang tadi.

Dari luar pagar, kantor Mas Ye tampak sepi seperti biasa. Saat kubuka pagar, bersamaan dengan Zed—asisten Mas Ye—keluar dari pintu depan. Dari wajahnya aku tahu ada yang tidak beres. Garis wajahnya makin tegang saat aku menanyakan keberadaan Mas Ye.

Setelah terdiam beberapa saat, dia memintaku mengikutinya masuk.

Aku menggigil menahan kemarahan mendengar tuturan Zed. Namun aku tidak tahu, kemarahan ini harus kutujukan pada siapa.

“Salah satu mahasiswa ‘bimbingan’ Mas Ye gagal ujian skripsi. Orang tua mahasiswa itu lalu melaporkan Mas Ye ke polisi.” Zed terbata-bata menjelaskan keberadaan Mas Ye padaku.“Tidak adil buat Mas Ye. Dia sudah bekerja keras. Bukan salahnya kalau anak itu terlalu bodoh!”

Lihat juga...