Sarjana Lima Juta

CERPEN OKY E. NOORSARI

Dunia yang kita tinggali ini memang bukan tempat yang adil, Zed. Orang tua mahasiswa itu juga bertindak karena merasa mendapat ketidakadilan. Sebab uang yang mereka keluarkan tidak bekerja dengan semestinya, dan Mas Ye yang mereka salahkan. Oh, gila!

Semula aku sudah tak sabar ingin memberi kabar hasil ‘lulus tanpa revisi’ padanya. Namun kenyataan menghajar batinku hingga babak belur. Kupikir yang kulakukan sudah seburuk-buruknya perilaku. Oh, mengapa ada yang lebih menjijikkan dari yang aku dan orang tuaku perbuat?

Kegembiraan yang aku rasakan memang semu. Kontribusiku hanya dua puluh persen atas hasil yang kudapat. Selebihnya adalah kerja keras Mas Ye, dan uang Mama. Namun suatu hal yang sudah menjadi kebiasaan menjadikan aku tak peduli.

Aku bisa bergembira sesukanya, pantas maupun tidak, Namun kesialan yang menimpa Mas Ye, mengganggu ritual perayaan kegembiraan semuku.

Mendadak kepalaku dipenuhi pertanyaan. Bagaimana memperjuangkan keadilan untuk Mas Ye? Namun, profesi semacam Mas Ye bukannya justru menyuburkan praktik-praktik ketidakadilan yang kami—aku dan orang tuaku—lakukan?

Masih pantaskan Mas Ye mengharapkan keadilan? Sanggupkah seorang sarjana senilai lima juta seperti aku menemukan jawabannya?

Keadilan bagi seluruh rakyat, keadilan yang bagaimana? Keadilan untuk usaha kerja keras? Atau keadilan untuk besaran uang yang membeli keadilan itu sendiri? ***

Oky E. Noorsari, penulis cerita yang tinggal di Bantul, Yogyakarta.

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Cerpen yang dikirim orisinal, hanya dikirim ke Cendana News, belum pernah tayang di media lain baik cetak, online atau buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com. Karya yang akan ditayangkan dikonfirmasi terlebih dahulu. Jika lebih dari sebulan sejak pengiriman tak ada kabar, dipersilakan dikirim ke media lain.

Lihat juga...