29 November 1975, Presiden Soeharto: Politik Indonesia Bebas Aktif semakin cocok dengan keadaan dunia

SABTU, 29 NOVEMBER 1975 Dalam suatu upacara di Istana Negara, Presiden Soeharto melantik tujuh duta besar baru.

Mereka adalah Duta Besar Eri Sudewo untuk Swedia, Duta Besar Mukijat untuk Finlandia, Duta Besar Supamo untuk Republik Demokrasi Jerman, Duta Besar Tjokorde Ngurah Win Sukowati untuk Swiss, Duta Besar Fuad Hassan untuk Republik Arab Mesir, dan Ali Alatas sebagai Kepala Perwakilan Tetap RI di PBB.

Dalam pidato pelantikan, Presiden Soeharto mengatakan, sesuai dengan Garis-garis Besar Haluan Negara, maka politik luar negeri kita yang bebas dan aktif kita abdikan kepada kepentingan nasional. Dan sesuai dengan prioritas nasional kita dewasa ini, pengabdian itu terutama diarahkan kepada pembangunan ekonomi.

Memberikan prioritas pada pembangunan ekonomi mempunyai arti bahwa kita harus berusaha untuk menciptakan dan memperkuat kondisi-kondisi agar pembangunan ekonomi itu dapat berjalan dengan lancar.

Ditegaskan, bahwa politik luar negeri bebas aktif yang diabdikan pada pembangunan Indonesia semakin lebih cocok dengan keadaan dunia yang sedang berubah dewasa ini.

Jauh berbeda dengan keadaan tiga dasawarsa yang lalu, tatkala semangat dan dasar-dasar politik luar negeri yang bebas dan aktif itu lahir bersama-sama dengan kemerdekaan kita, kini hampir seluruh bangsa telah merdeka secara politik, dan kolonialisme dalam segala bentuknya telah mendekati kepunahannya.

Akan tetapi diingatkannya bahwa punahnya kolonialisme bukanlah tujuan akhir, melainkan merupakan alat untuk mencapai tujuan yang lebih mulia, yaitu kesejahteraan, kemajuan, keadilan, dan perdamaian dunia. Ini berarti dimulainya zaman pembangunan bangsa-bangsa yang terkebelakang.

Lihat juga...