10 Desember 1973, Presiden Soeharto Resmikan Pipa Penampungan Minyak Rewulu

SENIN, 10 DESEMBER 1973, di Yogyakarta, Presiden Soeharto meresmikan pipa saluran minyak dan tempat penampungan minyak Rewulu.

Presiden Soeharto menegaskan bahwa penggalian sumber kekayaan alam seperti minyak dan tambang lainnya, kayu dan lain-lainnya tidak akan kita kuras habis untuk waktu pendek, sebab pembangunan bukan hanya persoalan masa kini, akan tetapi juga persoalan masa depan.

Dalam memberikan amanatnya pada peresmian pipa saluran minyak dan tempat penampungan minyak Rewulu, Yogyakarta Senin pagi lebih jauh Presiden Soeharto mengatakan bahwa penggalian sumber tambang dan kekayaan hutan telah diperhitungkan sedemikian agar kita tidak meninggalkan bumi yang miskin kepada generasi yang akan datang.

“Dalam menggali kekayaan tambang dan kekayaan alam lainnya itu mungkin dalam banyak hal kita perlu menggunakan modal dan keterampilan bangsa lain selama kita sendiri belum mampu. Akan tetapi hal ini tidak berarti dan tidak perlu kita membuat kehilangan harga diri dan kehilangan kepercayaan pada diri sendiri,” demikian kata Presiden.

Dijelaskan selanjutnya bahwa dengan bekerjasama itu justru kita harus pandai mengambil segala pengalaman dan pengetahuan yang diperlukan. “Bangsa yang ingin maju harus berani belajar cara-cara baru yang memungkinkan dipercepatnya kedatangan kemajuan tadi. Dengan semangat dan tujuan itulah kita perlu belajar dari orang lain,” demikian Kepala Negara.

Oleh presiden kemudian dinyatakan bahwa tanpa keberanian dan kesadaran yang demikian segala kekayaan alam akan lebih terpendam, yang juga berarti memperpanjang perjalanan kita mencapai kemajuan dan kesejahteraan.

Lihat juga...