2 Desember 1972, Presiden Soeharto resmikan Gedung Wisma Nusantara

SABTU, 2 DESEMBER 1972, Presiden Soeharto meresmikan gedung Wisma Nusantara di Jalan Thamrin, Jakarta. Gedung ini merupakan salah satu proyek “mercusuar” yang tidak dapat diselesaikan pembangunannya pada masa Orde Lama; pada masa Orde Baru pembangunan Wisma Nusantara dilanjutkan dengan bantuan modal Jepang.

Kini ia tidak akan menjadi proyek mercusuar lagi, sebab ia akan berfungsi sebagai salah satu pusat bisnis modern di ibukota. Ia dapat juga berfungsi sebagai sarana pariwisata, sebab di sebelahnya, masih dalam kompleks, kini telah berdiri sebuah hotel yang megah, President Hotel.

Dalam sambutannya, Presiden Soeharto menyebutkan, Gedung Wisma Nusantara ini cukup besar, modern dan tinggi, malahan merupakan gedung yang tertinggi di Asia Tenggara. Tetapi yang lebih penting bagi kita adalah, apa arti dan peranan gedung-gedung seperti ini dalam rangka keseluruhan bangsa kita dewasa ini.

“Seperti kita ketahui disini terdapat dua buah bangunan, yang satu Nusantara Building, yang disediakan untuk kantor perusahaan-perusahaan dan yang lain President Hotel,” sebut Kepala Negara.

Kantor-kantor perusahaan, kata Presiden, diperlukan untuk menyediakan tempat bagi pusat-pusat kegiatan usaha. Hotel-hotel diperlukan untuk menampung wisatawan.

“Kedua hal itu jelas merupakan bahagian yang penting bagi pembangunan bangsa kita,” jelas Presiden.

Seperti yang seringkali telah saya tegaskan, sebut Presiden Soeharto, arah pembangunan kita tidak berubah. Kita berkehendak untuk membangun masyarakat yang maju, sejahtera dan adil berdasarkan Pancasila.

“Dengan pembangunan itu kita ingin memperbaiki mutu kehidupan lahir maupun batin, baik bagi setiap anggota masyarakat maupun bagi seluruh masyarakat. Yang kita bangun pada hakekatnya adalah manusia-manusia Indonesia dan masyarakat Indonesia,” terang Kepala Negara.

Lihat juga...