ORANG-ORANG SISA

Oleh: Prof. Dr. Bustami Rahman, M.Sc

Setelah menjadi semakin tua, saya merasa menjadi salah satu dari ‘orang-orang sisa’ di negeri ini.

Apa yang dimaksud dengan ‘orang-orang sisa’ dalam tulisan ini? Mereka adalah orang-orang tua yang karena usia fisik dan juga mental atau karena kesehatannya menjadi berkurang sumber dayanya. Orang-orang sisa juga termasuk orang-orang yang kita sebut difabel, yakni yang dititipi Tuhan, sementara yang tampak disabel di mata kita di dunia ini.

Saya barusan pulang dari Solo menghadiri acara di UNS bersama para ‘veteran’ rektor Perguruan Tinggi Negeri Baru (PTNB). Usia para ‘veteran’ ini rata-rata berada pada rentang di atas 65 tahun dan bahkan di atas 70 tahun.

Selain membahas dan berdiskusi serius tentang berbagai hal mengenai PTNB dan masalahnya, para ‘semi senior’ ini juga tampak bahagia memanfaatkan suasana silaturahmi antar teman mantan sejawat. Suasana riang terbongkar habis.

Pada saat yang lain, saya juga terlibat senda gurau dalam silaturahmi dengan teman-teman yang lebih senior lagi. Kelompok ini adalah teman-teman yg sebagian telah berusia di atas 80 tahun. Masih sehat dan membutuhkan suasana riang gembira pula.

Saya amati orang-orang yang lebih tua ini tidak meminta untuk dihormati dan dilayani sebagai raja. Namun, jika mereka berada di ruang publik yang lebih luas, alangkah eloknya penghormatan dan pelayanan terhadap mereka ini diperhatikan lebih seksama.

Di negara yang peradabannya lebih tua seperti di Eropa (the old european civilization) misalnya, perhatian kepada kaum senior ini (elderly) sangat diperhatikan. Jika perhatian yang tinggi terhadap fasilitas publik terhadap anak-anak diperhatikan, maka perhatian yang sama juga harapannya terhadap para senior ini.

Lihat juga...