Browsing Kategori: "Cerpen"

Cerpen

Cerpen menghimpun cerita pendek yang dikirimkan penulis lintas generasi untuk menambah warna dalam pemberitaan ringan seperti Ciuman Terakhir untuk Ibu

Prajurit Perang Puputan

Aku berusaha tak melihat tubuh Nur, selain hanya mengetahui semua yang ia lakukan dari bayangannya di datar rumput. Mondar-mandir ke sana kemari, membawa tumpukan pakaian tebal dan basah, sesekali ia peras dan ia kibas-kibaskan.

Sebuah Cara Menyambut Hujan

Memang terasa aneh. Seperti pencuri di malam hari, mendung itu datang tiba-tiba nyaris tanpa sebuah tanda. Angin bertiup menghempaskan rasa dingin di permukaan kulit.

Guru

Aku menggeliat menggerakkan tubuh sambil memandang sekitar. Tuhan Maha Besar. Pohon-pohon hijau yang saya tanam sebelumnya mulai tumbuh menyegarkan. Aneka tanaman buah mulai berkembang di tanah basah.

Tengkorak

Mereka menemukan sebuah tengkorak yang jelas sekali tengkorak manusia. Dalam beberapa saat, mereka seperti melihat masih ada nyawa menghuni tengkorak itu. Sebelum akhirnya tengkorak itu tampak tidak lebih dari sekadar rumah-rumahan semut.

Sora dan Rumahnya

Ia sibuk membaca buku paket bahasa Indonesia kelas satu sekolah dasar. Padahal masih duduk di taman kanak-kanak kelas nol besar. Ayahnya membelikannya banyak buku meski ia ingin sebuah tamagotchi. Ibunya pernah menangis saat mengajarinya…

1946

Otak Ningsih masih jelas merekam bagaimana kejadian malam itu. Jawaban penolakan yang keluar dari mulutnya benar-benar membuat Romo naik pitam. Ningsih tak menyangka, ia dianggap telah membuat malu nama keluarga, dan mencoreng wajah Romo di…

Pedang Wasiat

Darmo mengangguk, meskipun kekhawatiran masih mengalir di tubuhnya. Ia prihatin dengan keadaan Mbah Mardi, sesepuh Desa Seloso ini.

Suatu Sore pada Bulan Oktober

Ia terus kepikiran, di mana melalui pesan whatsapp akhir-akhir ini, beberapa nomor tak dikenal sangat rajin memprospek Sere, salah satunya menawarkan bisnis multi level marketing.

Keluarga Umak

Uwak –lelaki tua berwajah tak karuan itu- memiliki hobi mencak-mencak. Tak pagi tak malam seperti cacing kepanasan. Kopi terlalu pahit lha, lauk tak ada ikan, selalu jadi musabab pertengkaran berulang-ulang.

Keabadian

Dihirupnya aroma buku yang khas, menimang satu-dua buku seperti bayi, menyibak sampulnya pelan-pelan. Ia memperlakukan buku bagai porselen Cina mahal.

Semangkuk Kanji Rumbi

Ada kapulaga, ketumbar, jintan, adas, dan aneka bumbu yang akan digilasnya di lumpang batu. Setelah beberapa menit yang lalu ia menyangrai beras, kemudian merebusnya hingga menjadi bubur di dalam panci bersama kuah kaldu.

Keris Leluhur

Lima tahun silam ia menerima keris itu dari ayahnya. Seminggu menjelang ayahnya meninggal, tanpa sakit, seperti sudah berfirasat, mewariskan sebilah keris pusaka Ki Reksa Wana – penjaga bukit hutan larangan. Ia pewaris keris, keturunan…

Bawalah Saya dari Halmahera

Saya cuma tahu Jakarta dari televisi. Semarak dan indah sekali. Segalanya ada. Malnya besar-besar. Bioskop, hotel, tempat hiburan tersebar di setiap pojok gang.

Lintang Waluku

Bukit itu seperti bentangan layar panggung yang belum disingkap. Cahaya di baliknya masih malu-malu menampakkan diri sehingga hanya hadir sebagai siluet.

Juru Kunci Makam

Awalnya, ketika masih muda membantu bapaknya yang menjadi juru kunci, ketika bapaknya meninggal ia menggantikannya. Saat itu, umurnya baru 28 tahun.