Pisang Kepok di Sikka Diburu Pembeli

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

MAUMERE – Pisang kepok merupakan salah satu jenis pisang yang selalu diburu pembeli. Pisang jenis ini merupakan pisang favorit untuk dijadikan pisang goreng dan keripik sehingga harga jual pun terus meningkat.

“Saya selalu membeli pisang hingga ke desa-desa di seluruh kabupaten Sikka. Biasanya satu tandan dibeli seharga Rp25 ribu sampai Rp30 ribu,” sebut Heribertus Sani, warga Maumere, Senin (3/6/2019).

Saat ditemui di jalan Nong Meak, depan pelabuhan Laurens Say Maumere, Heri sapaannya, mengakui, pisang yang dibelinya di desa dijual kembali kepada pedagang pengumpul. Satu tandan pisang kepok dijual seharga Rp35 ribu sampai Rp40 ribu.

“Pedagang pengumpul biasanya membawa ke Surabaya atau Denpasar menggunakan kapal ferry dari Ende. Kalau dulu di Maumere masih ada kapal roro sehingga pengiriman lebih mudah,” ungkapnya.

Ditambahkan Heri, harga pisang kepok di Surabaya maupun Denpasar bisa mencapai Rp150 ribu sampai Rp200 ribu per tandan. Dalam sebulan sebutnya, dua kali dilakukan pengiriman sesuai dengan jadwal kapal roro.

“Sekali berangkat biasanya minimal 10 truk berukuran besar. Terkadang juga pisang tersebut diambil di beberapa kabupaten tetangga seperti Flores Timur dan Ende,” terangnya.

Dari desa-desa tambah Heri, pisang diangkut dengan truk kayu, lalu disusun ke truk berukuran besar sehari sebelum keberangkatan kapal roro. Satu truk besar bisa mengangkut ribuan tandan pisang yang masih setengah matang.

“Kami beli pisang yang masih mentah dan sudah tua agar setelah tiba di Surabaya atau Denpasar sudah matang. Keuntungan penjualan pisang kepok juga tergolong lumayan sehingga sudah banyak pembeli yang datang ke desa-desa,” ujarnya.

Densemina Maria Minsia, seorang pedagang di pasar Alok, asal kecamatan Koting, mengakui, pedagang pisang dan keripik juga biasa membeli pisang di pasar Alok. Biasanya kalau stok masih kurang untuk dikirim, pedagang suka membeli di pasar Alok.

Densemina Maria Minsia seorang pedagang pisang kepok di pasar Alok Maumere saat berjualan bersama sang anak. Foto: Ebed de Rosary

“Kalau di pasar Alok, harga satu tandan berukuran kecil mencapai Rp25 ribu sementara ukuran besar bisa mencapai Rp50 ribu. Tapi pedagang biasanya menjual per sisir untuk pisang yang sudah matang dengan harga Rp10 ribu per sisir,” terangnya.

Keuntungan yang diperoleh juga lumayan bagus kata Minsia, dibandingkan dengan menjual per tandan. Tapi pedagang pengumpul tidak membeli pisang yang sudah matang dan lebih memilih pisang yang mentah.

“Penjual pisang goreng dan pisang molen lebih menyukai pisang yang sudah matang. Ini yang membuat kami para pedagang lebih suka menjual pisang yang sudah matang karena keuntungannya bisa dua kali lipat,” pungkasnya.

KepokKeripikmolenNTTNusa TenggaraPIsang
Comments (0)
Add Comment