Tiga Desa di Perbatasan Mahulu Akhirnya Nikmati Listrik 24 Jam

LONG PAHANGAI – Setidaknya ada tiga kampung atau desa di kawasan perbatasan negara di Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Kalimantan Timur, kini bisa menikmati layanan listrik 24 jam.

Layanan tersebut diperoleh, setelah terpasang solar cell, yang pengadaanya memanfaatkan anggaran dari pemerintah pusat. Tiga kampung di kecamatan yang berbatasan dengan Serawak, negara bagian Malaysia itu adalah Kampung Long Pakaq Baru, Long Pakaq, dan Kampung Delang Kerohong.

“Pembangkit Listrik Tenaga Surya Terpusat atau solar cell ini berkapasitas 64 kWp. Dibangun dari Alokasi Dana Khusus (DAK), melalui Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Timur tahun 2018,” ujar Kepala Kampung Long Pakaq Baru, Frumentius, di Long Pahangai, Rabu (30/10/2019).

Menurutnya, warga bersyukur telah mendapatkan pembangkit listrik yang bisa beroperasi 24 jam tersebut. Kini masyarakat bisa mengerjakan hal-hal penting di malam hari. Bahkan di siang hari, warga bisa menggunakan peralatan yang membutuhkan listrik seperti bor, gerinda listrik, dan barang-barang elektronik lainnya.

Di 2018 atau sebelum adanya PLTS tersebut, hanya warga yang mampu membeli generator set (genset) kecil yang bisa menikmati listrik. Mereka rata-rata menikmati listrik selama empat jam, sekitar pukul 18.30 hingga 22.30 waktu setempat. Sedangkan warga yang tidak memiliki genset, tentu masih pakai lampu tempel. Meski warga mampu membeli genset, namun biaya operasional terasa berat karena harus mengeluarkan uang untuk membeli bensin.

Sebelum diberlakukannya BBM satu harga, di kawasan perbatasan tersebut harganya mencapai Rp15 ribu per-liter. Sedangkan setelah berlakunya BBM satu harga, turun menjadi Rp10 ribu per-liter di tingkat pengecer. “Katakanlah harga bensin Rp10 ribu per-liter. Untuk menyalakan genset empat jam per malam, maka diperlukan bensin dua liter yang berarti membutuhkan uang Rp20 ribu. Berarti dalam satu bulan harus menyisihkan anggaran mencapai Rp600 ribu hanya untuk listrik empat jam per malam, hal ini tentu sangat berat,” katanya.

Namun kini, beban itu berubah menjadi berkah karena ada listrik yang menyala 24 jam. Masyarakat dapat menikmatinya dengan hanya membayar Rp60 ribu per-bulan, sehingga secara ekonomis masyarakat bisa berhemat. “Khusus untuk di kampung kami, PLTS ini digunakan untuk sekitar 130 KK dengan penduduk sebanyak 475 jiwa. PLTS ini juga disalurkan ke Kampung Delang Kerohong. Sedangkan untuk kampung di seberang Sungai Mahakam, yakni Long Pakaq, memiliki PLTS yang sama dengan kampung kami,” ucap Frumentius. (Ant)

KaltaraListrikmahakam hulumahaluperbatasanPLTSserawak malaysiaTenaga Surya
Comments (0)
Add Comment