Lita, Atlet Pencak Silat Asal Probolinggo

Editor: Koko Triarko

MALANG – Olah raga bela diri seakan telah menjadi bagian tidak terpisahkan dalam diri atlet pencak silat asal kota Probolinggo, Arlita Melly Dyah Putri Diana. Bermula dari sekadar hobi, gadis kelahiran 18 September 2001 tersebut kini justru kerap meraih prestasi di berbagai kejuaraan pencak silat.

Mahasiswi jurusan teknik lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang ini menceritakan, kegemarannya menggeluti olah raga bela diri sudah diawali sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dengan mengikuti bela diri Taekwondo.

“Sejak dulu memang sudah hobi bela diri. Waktu SD sempat ikut Taekwondo, tapi hanya dasar-dasarnya saja. Kemudian  SMP kelas satu, saya tertarik dengan olah raga bela diri pencak silat dan bergabung dengan perguruan Tapak Suci hingga sekarang,” ceritanya, saat ditemui di ITN.

Atlet pencak silat, Arlita Melly Dyah Putri Diana, menunjukkan penghargaan yang diperolehnya di ajang Yogyakarta Championship di ITN, Sabtu (2/11/2019). -Foto: Agus Nurchaliq

Sejak itu, gadis yang akrab disapa Lita tersebut mulai menunjukkan prestasinya dengan meraih gelar di berbagai kejuaraan.

Lita pernah dinobatkan sebagai pesilat terbaik putri tingkat kota tahun 2017, juara 1 kejuaraan Universitas Muhammadiyah Surabaya Nasional Championship 2018. Baru-baru ini, Lita juga berhasil merebut juara 1 kategori tanding di ajang Yogyakarta Championship 2019 mewakili ITN Malang.

Lebih lanjut, putri dari pasangan Soehariyono dan Raden Nurdiana Idawati, ini mengaku untuk bisa meraih berbagai prestasi tersebut bukan perkara mudah. Risiko mengalami cidera selalu ada dalam setiap pertandingan, bahkan patah pergelangan tangan akibat tendangan lawan pernah dialaminya.

Namun, hal tersebut tidak menyurutkan keberanian anak pertama dari tiga bersaudara tersebut untuk tetap berlaga.

Menurutnya, selain kerja keras dan disiplin dalam latihan, yang tidak kalah penting adalah dukungan penuh dari keluarga serta motivasi pelatih sangat dibutuhkan dalam melakoni setiap pertandingan, terutama ketika down melihat lawan yang bagus.

“Pelatih saya, Bapak Sunarbi, orangnya tegas dan sangat disiplin dalam memberikan porsi latihan. Tapi justru itu yang membuat saya lebih semangat, karena saya tipe orang yang tidak bisa ‘dikalemi’,” ujarnya.

Bagi Lita, menekuni olah raga bela diri bukan sebagai ajang pamer kekuatan untuk menindas orang lain, tapi lebih kepada menjaga kesehatan dan menjaga diri dari sesuatu yang tidak diinginkan.

“Olah raga bela diri apa pun tidak boleh digunakan untuk sok-sok’an menindas orang lain, tapi digunakan untuk menjaga diri dan kesehatan,” ujar gadis yang juga mengidolakan atlet pencak silat Iqbal Candra tersebut.

Dalam pencak silat Tapak Suci, saat ini Lita sudah berada di tingkatan sabuk kuning melati empat, dan tidak lama lagi ia akan masuk pada tingkatan sabuk biru.

“Impian tertinggi saya ingin ikut pelatnas membela Indonesia di kancah internasional,” pungkasnya.

atletJatimmalangPencaksilat
Comments (0)
Add Comment