Sempat Diusir Kala Membaca, Menginspirasi Dirikan Taman Baca

JAKARTA — Pernah mengalami diusir dari sebuah toko buku karena kegemarannya membaca, Nursyida Syam kemudian bertekad untuk memberikan akses buku bacaan bagi anak-anak di Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

“Saat itu, ada buku judulnya ‘Indonesia Tanpa Pagar’, bukunya bagus sekali dan tebal. Sayangnya harganya mahal dan tidak terjangkau oleh saya,” ujar Nursyida di Jakarta, Jumat (8/11/2019).

Selama seminggu, ia datang ke toko buku itu hanya untuk membaca. Penjaga toko yang melihatnya jengkel hingga akhirnya mengusirnya, karena Nursyida tidak membeli dan hanya numpang baca saat datang ke toko.

Peristiwa tidak mengenakkan tersebut terjadi saat dirinya menimba ilmu di Fakultas Sastra Universitas Negeri Yogyakarta atau UNY. Peristiwa tidak nyaman itu sekaligus menjadi cambuk baginya untuk berbagi pada sesama.

Ia kemudian berjanji pada dirinya sendiri, untuk membangun taman baca begitu lulus dari bangku kuliah. Nursyida berkeyakinan anak-anak pada dasarnya suka membaca. Namun karena ketiadaan akses bahan bacaan serta keadaan ekonomi yang kekurangan, membuat anak-anak tidak bisa membaca.

Nursyid merupakan pendiri Klub Baca Perempuan di kampung halamannya di Desa Sokong, Kecamatan Tanjung, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Melalui klub tersebut, ia menularkan semangat membaca. Awal pendirian klub di Lombok Timur pada 2006. Saat itu, suaminya membangun rumah dua lantai yang mana lantai pertama digunakan sebagai taman bacaan.

Namun karena Lombok Timur bukan daerah asalnya, Nursyida merasa dirinya kurang mendapatkan sambutan dari masyarakat setempat. Malah ia mendapatkan cibiran karena sehari-hari hanya menjadi seorang ibu rumah tangga.

“Sulit untuk meyakinkan orang-orang, karena saya bukan warga setempat. Hanya ibu rumah tangga biasa, mereka tidak mau mendengar,” kata dia.

Tak patah arang, Nursyida membangun taman baca di kampung halamannya dengan 200 buku dalam satu rak yang ditempatkan di depan usaha binatu rumahan.

Warisan buku dan mobil bekas peninggalan sang ayah juga dimanfaatkan untuk membantu perjuangannya. Untuk menarik minat anak-anak ke rumahnya, ia sering mengadakan berbagai kegiatan, termasuk di antaranya mengadakan berbagai macam perlombaan ataupun kegiatan mendongeng.

Ia juga mengangkat semacam “duta baca”, yakni tokoh setempat yang hidupnya berubah setelah membaca. Dengan mengangkat duta baca, maka mau tak mau tokoh yang diangkat menjadi rajin membaca dan menularkan kebiasaannya itu pada sekelilingnya. Kini ia ingin setiap anak bisa menjadi duta baca.

Sejak 2011, ia membuka Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah alam pada sore hari. Melalui kegiatan itu, dia berharap anak-anak mempunyai kegiatan yang terarah. Berbagai kegiatan diselenggarakan, mulai dari menulis, perkusi, menari, dan belajar Bahasa Inggris.

Setiap bulannya, ia dan para relawan berkeliling dari satu dusun ke dusun lain untuk menukar buku. Sehingga anak-anak selalu mendapatkan buku baru untuk dibaca.

Klub baca tersebut terus berkembang dan memiliki 24 mitra taman baca pada 2018. Taman baca tersebut terdapat di posyandu, rumah warga, pos siskamling, dan lainnya. Namun setelah gempa yang terjadi 29 Juli 2018, jumlah mitra itu berkurang, karena banyak bangunan yang roboh dan rusak.

“Alhamdulillah tahun ini merupakan tahun yang menggembirakan. Meskipun pascagempa, semangat gerakan literasi terus meningkat, apalagi di sekolah-sekolah,” katanya bersemangat.

Saat ini, ia fokus membantu upaya pemulihan korban gempa di Lombok Utara. Kabupaten tersebut merupakan salah satu daerah yang mengalami dampak serius akibat gempa.

Atas jerih payahnya itu, sejumlah penghargaan diraih Nursyida Syam. Pada 2016, ia meraih Frans Seda Award. Pada Rabu (6/11) malam, ia meraih pegiat PAUD 2019 dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Warisan Ayah

Kecintaan Nursyida pada buku bukan datang secara tiba-tiba, melainkan terbentuk sejak dini. Ayahnya yang seorang wartawan, mendidiknya untuk gemar membaca. Bahkan ayahnnya rela mengkliping koran tokoh-tokoh ternama agar bisa dibaca anaknya.

Sebagai seorang wartawan yang hidupnya bersahaja, ayahnya lebih banyak mewariskan buku-buku pada anaknya dibandingkan harta benda. Ayahnya berusaha menyediakan akses bahan bacaan pada anaknya.

Kecintaan akan buku juga dibuktikan saat Nursyida menerima lamaran dari calon suaminya pada 2004. Ia menerima pinangan lelaki yang sebelumnya berada di Korea Selatan itu, dengan syarat mendukungnya mewujudkan keluarga yang cinta dengan buku serta mendirikan taman bacaan.

Ia pun menikah bertepatan dengan Hari Buku Internasional pada 23 April dengan mahar buku berjudul “Fiqih Wanita dan Alquran”.

Saat ini, Nursyida mengaku sedang fokus pada peningkatan kompetensi guru PAUD. Sejumlah acara digelarnya serta menghadirkan sejumlah tokoh yang dinilai paham mengenai pendidikan anak usia dini.

“Baru-baru ini, kami menghadirkan pendongeng Kang Cahyo dari Universitas Trilogi. Kemudian juga Butet Manurung,” kata dia.

Semua biaya tersebut, berasal dari kantong pribadinya. Beruntungnya, ia kerap menang penghargaan dan hadiah yang diperoleh darii lomba itu digunakan untuk mendukung kegiatannya.

Hadiah yang didapatnya dari Kemendikbud, rencananya akan digunakan untuk mengirim guru PAUD ke Yogyakarta. Para guru PAUD itu akan belajar untuk meningkatkan kompetensinya.

“Saya sudah diberi nikmat yang luar biasa dari Tuhan, terlalu rakus jika saya menikmatinya sendiri,” ujarnya lirih. (Ant)

bukuHari Buku InternasionalLombok utaramembacaNTBNursyida SyamTaman BacaToko Buku
Comments (0)
Add Comment