Berburu Kuliner Nasi Jinggo di Pulau Bali

Editor: Makmun Hidayat

DENPASAR — Jika sedang berlibur ke pulau Bali, ada satu kuliner yang wajib dicoba oleh wisatawan yaitu nasi jinggo. Nasi ini mirip-mirip nasi kucing khas Yogyakarta maupun Malang, namun yang membedakan adalah porsi nasi jinggo yang pada umumnya lebih banyak.

Nasi jinggo adalah makanan siap saji khas Bali yang dikemas daun pisang dengan porsi kecil. Sejarah nasi ini sendiri terjadi sebelum krisis moneter pada tahun 1997.

Nasi ini dulunya dijual per porsi seharga Rp1500 yang dalam bahasa Hokkien, jeng go memiliki arti seribu lima ratus. Biasanya nasi jinggo menggunakan lauk pauk ayam dan ikan. Dahulu, karena porsi nasi jinggo sangat sedikit, pembeli biasanya membeli nasi jinggo sebanyak beberapa bungkus agar dapat kenyang.

Nasi jinggo ini mudah dijumpai oleh masyarakat maupun wisatawan karena dijual di jalanan. Salah satu penjual nasi jinggo ini adalah Yayak.  Dia berjualan di Jalan Gunung Soputan Kita Denpasar. Saban hari dirinya menjual nasi jinggo dari pagi hingga malam.

Yayak penjual nasi jinggo di Jalan Gunung Soputan Kita Denpasar saat ditemui Sabtu (7/12/2019). -Foto: Sultan Anshori

Dikatakan, biasanya, tersedia berbagai lauk pauk misalnya ikan ayam, ikan laut, telur maupun jenis lauk pauk lainnya. Tak lupa, sambal terasi menjadi pelengkap kuliner yang menjadi legenda di pulau berjuluk seribu pura ini. “Saya jualan tiap hari,” sebutnya saat ditemui di tempat usahanya, Sabtu, (7/12/2019).

Pada umumnya, nasi jinggo menggunakan daun pisang. Seiring perkembangan zaman, kebanyakan penjual atau pedagang menggunakan kertas minyak. Namun, Yayak menegaskan, tetap menggunakan daun pisang untuk membungkus nasi jinggo jualannya.

Hal tersebut karena selain menjaga ciri khas nasi jinggo juga demi mendukung program pemerintah untuk melestarikan lingkungan dengan tidak menggunakan pembungkus makan yang mengandung plastik.

“Lagipula dengan menggunakan daun pisang rasanya beda, yaitu harum dan lebih tahan lama,” tegasnya.

Untuk satu porsi nasi jinggo dijualnya dengan harga Rp5000. Kini nasi jinggo menjadi sajian alternatif untuk berbagai upacara religius seperti ngaben, perayaan ulang tahun, dan acara besar lainnya.

Arifin, salah seorang penikmat nasi jinggo mengaku senang mengkonsumsi nasi yang pada umumnya dibuat menggunakan nasi putih ini. Menurutnya, selain enak, nasi jinggo ini juga ekonomis. Pemuda asal Banyuwangi ini mengaku, hampir pasti setiap hari membeli nasi jinggo untuk dikonsumsi.

BalidenpasarkulinerNasi Jinggo
Comments (0)
Add Comment