Sistem Tebang Pilih Lestarikan Tanaman Langka di Lamtim

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

LAMPUNG — Kebutuhan kayu sebagai bahan bangunan, pembuatan kapal dan sejumlah keperluan mendorong penebangan pohon meningkat. Bahkan di antaranya mengalami kelangkaan akibat sering ditebang.

Darto, salah satu tukang bangunan pembuat kusen dan kebutuhan rumah tangga berbahan kayu di Desa Sri Gading, Kecamatan Labuhan Maringgai, Lampung Timur (Lamtim) menyebutkan, sejumlah bahan kayu kerap sulit diperoleh. Tingginya pemanfaatan tanpa diimbangi penanaman menjadi penyebab pohon makin berkurang.

Sebagai solusi ia memilih memanfaatkan lahan miliknya seluas seperempat hektare untuk menanam kayu. Jenis pohon jati, akasia, jati ambon dan sengon ditanam dengan sistem campuran. Penanaman menjadi cara mengubah lahan tidak produktif menjadi lebih subur. Selain konservasi, lingkungan terjaga, kebutuhan kayu tetap bisa terpenuhi.

Sebagian bibit tanaman yang tumbuh alami secara generatif menurut Darto akan dipencarkan. Sejumlah pohon dengan usia siap panen dan berukuran besar akan ditebang memakai sistem tebang pilih.

“Saat pohon yang lebih tinggi ditebang maka tajuk pohon lain memiliki kesempatan tumbuh lebih tinggi,” ungkap Darto saat ditemui Cendana News, Rabu (4/12/2019).

Pencari kayu untuk kebutuhan perahu, Suyono mengaku sejumlah kayu sulit dicari. Warga Lampung Selatan itu mencari jenis kayu jati, akasia dan nibung hingga ke Lamtim. Salah satu yang sulit diperolah menurutnya merupakan jenis kayu nibung.

“Pohon kelas palmae menyerupai pohon pinang dan berduri tersebut memiliki kualitas bagus untuk bahan pembuatan kapal bagan congkel” tutur Suyono.

Pohon nibung yang mulai langka disebutnya dibeli dengan harga Rp400ribu dengan ukuran sekitar 8 meter.

Selain mencari pohon nibung ia mencari bahan kayu jati dengan harga Rp2 juta per kubik, kayu akasia Rp500 ribu per kubik.

Sarman, pemilik lahan dengan berbagai jenis tanaman kayu di Desa Margasari mengaku sengaja menanam sejumlah pohon. Sistem tumpang sari atau Multy Purpose Tree Species (MPTS) menurutnya sangat penting.

“Kayu yang ditanam pada lahan berpasir mencegah lahan tergerus saat hujan dan hasilnya kini lahan menjadi subur,” papar Sarman.

Sistem tebang pilih diiringi dengan penanaman bibit baru menjadikan lahan Sarman dipenuhi beragam kayu. Warga yang berprofesi sebagai nelayan itu menyebut kebutuhan kayu yang disediakan sekaligus menghemat. Sejumlah kayu bahan perahu mulai sulit dicari sehingga harga semakin mahal.

Tingginya kebutuhan membuat ia memilih menanam sejumlah pohon di lahan miliknya. Selain digunakan untuk keperluan pembuatan perahu ia kerap menjual sejumlah pohon yang sudah tua.

“Sebagian bibit yang tumbuh secara alami dari biji dan sebagian tunas dipertahankan menggantikan pohon yang sudah ditebang,” tutupnya.

LampungLamtimPelestarian Lingkungan
Comments (0)
Add Comment