Sitokong, Durian Jadul Rasa Milenial

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BOGOR – Dari 24 varietas duarian yang tahun ini panen secara bersamaan di Taman Buah Mekarsari, Sitokong merupakan salah satu yang juga memiliki rasa manis dan disukai pengunjung.

Staf R&D Taman Buah Mekarsari, Dudi Zein, menyebutkan bahwa Sitokong merupakan durian lokal Indonesia, dari Jawa Tengah dan mulai ditanam di Taman Buah Mekarsari pada tahun 1994.

“Tahun ini merupakan panen terbanyak Sitokong. Selain karena cuacanya memang mendukung juga karena Mekarsari sudah mulai melakukan recovery kebun dengan teknik budidaya yang tepat, yaitu Good Agriculture Production (GAP) mulai dari pemupukan hingga pemangkasan,” kata Dudi saat ditemui di Kebun Durian, Taman Buah Mekarsari Bogor, Minggu (22/12/2019).

Ia menyebutkan Sitokong ini termasuk jenis durian ‘jadul’ yang mulai banyak dilupakan oleh masyarakat karena banyaknya varietas baru yang bermunculan.

“Varietas ini termasuk yang lama dan mulai dilupakan masyarakat. Tapi ada beberapa pecinta durian yang masih memiliki varietas ini. Tapi ya memang tidak semasif varietas baru seperti monthong ataupun musang king,” urainya.

Selain itu, kelemahan durian lokal seperti halnya Sitokong ini adalah jika lokasi penanamannya berbeda biasanya akan menghasilkan hasil yang berbeda pula.

“Sitokong ini juga membutuhkan waktu keluar bunga itu sekitar 2-3 bulan kering. Jadi berbeda dengan varietas yang sering ditemukan di pasar. Tapi untuk proses berbuahnya tetap sekitar 4 bulan,” ucap Dudi.

Di daerah asalnya, Dudi menyebutkan, Sitokong masih bisa ditemukan karena generasi tua biasanya tetap mempertahankan varietas ini, sebagai kebanggaan akan buah duriah asli daerah mereka.

Kepala Kebun Taman Buah Mekarsari, Bambang, menyebutkan, ciri khas Sitokong yang paling gampang terlihat adalah dari bentuk buahnya yang panjang dengan sekatan-sekatan seperti bintang lima. Durinya tegak lurus tapi tidak terlalu panjang.

Tekstur daging buah durian Sitokong lebih lembut dibandingkan durian Matahari dengan warna daging buah kuning pucat. Tapi rasanya tetap manis, Minggu (22/12/2019) – Foto: Ranny Supusepa

“Lingkar buahnya sendiri sekitar 35-40 cm dengan juring lima memanjang. Tekstur daging buahnya lebih lembut dibandingkan matahari dengan warna daging buah yang kuning pucat. Tapi rasanya tetap manis, brix-nya 13-14 derajat. Daging buah Sitokong agak tipis dengan biji buah yang besar, aromanya juga kuat,” kata Bambang.

Tampilan fisik pohon Sitokong terlihat berbeda dengan daun yang berwarna hijau agak pekat, bagian bawahnya agak putih dan bentuknya menjari.

“Dalam setiap pohon, bisa dipanen sekitar seratusan buah. Jumlah tepatnya bergantung pada jenis tajuknya. Semakin banyak cabang maka jumlah buahnya akan semakin banyak,” pungkasnya.

bogorBuahdagingdurianJabarmekarsaripohonsitokongtamanteksturvarietas
Comments (0)
Add Comment