Mewaspadai Masuknya Virus Demam Babi ke Sumbar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Sumatera Barat, melakukan pengawasan dan antisipasi masuknya penyakit ASF (african swine fever) atau dikenal dengan demam babi ke Sumatera Barat. Hal ini pasca ditemukannya 30.000 babi di Sumatera Utara yang positif terkena virus ASF.

Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Eka Darnida Yanto, mengatakan, daerah Sumatera Barat dengan Sumatera Utara merupakan dua daerah yang berdekatan.

Kabupaten Pasaman merupakan daerah yang menjadi jalur penghubung kedua daerah itu. Di Pasaman, menjadi titik konsen pengawasan ketat dilakukan terhadap virus ASF.

“Kita di Balai Karantina Pertanian tentunya tidak ingin virus ASF itu masuk ke Sumatera Barat ini, karena akan dapat mengganggu kesehatan babi seperti halnya di Kabupaten Kepulauan Mentawai dimana masyarakatnya ada yang beternak babi, dan beberapa titik pasar di Kota Padang yang ada menjual daging babi ,” katanya, Rabu (15/1/2020).

Menurutnya, kondisi 30.000 babi yang terkena virus di Sumatera Utara itu, merupakan hal yang mengejutkan dan patut diwaspadai wabahnya hingga ke Sumatera Barat.

Kini Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang telah melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten dan Kota untuk memeriksa setiap babi yang mungkin ada masuk ke Sumatera Barat.

Ada Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang memiliki wewenang lebih detil untuk mewaspadai penyebaran virus ASF tersebut. Sejauh ini, Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang menyabutkan belum ada laporan adanya babi terkena virus yang masuk ke Sumatera Barat.

“Di Sumatera Barat ini bisa dikatakan hanya sebagian kecil masyarakat yang mengkonsumi babi, karena mayoritas penduduk di Sumatera Barat adalah muslim. Namun meskipun hanya sebagian kecil saja, Balai Karantina Pertanian memiliki tanggungjawab untuk mengantisipasi berbagai penyakit dari hewan yang masuk ke wilayah kerja kami,” tegasnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Karantina Hewan, Balai Karantina Pertanian Kelas I Padang, Agus Rahmat Hasibuan, mengatakan, virus demam babi itu sebenarnya tidak memberikan efek gangguan kesehatan bagi manusia.

Hanya saja yang dikhawatirkan bakal bisa merusak kesehatan babi dan dapat mengancam warga yang melakukan ternak babi.

Ia menjelaskan untuk virus ASF dapat ditularkan melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi. Dulu, babi hutan merupakan awal mulai identifikasi sebagai salah satu dari beberapa kemungkinan penyebab penyebaran.

Dikatakannya, cara penularannya itu, melalui serangga seperti kutu. Bahkan virus ini juga dapat bertahan hidup beberapa bulan dalam daging olahan, dan beberapa tahun dalam daging babi beku, sehingga produk daging menjadi perhatian khusus untuk penularan lintas batas.

“Jadi pengawasan kita perketat itu di daerah perbatasan Sumatera Barat dan Sumatera Utara yakni antara Kabupaten Pasaman dengan Kabupaten Mandailing Natal, karena cuma satu-satunya pintu lalu lintas,” tutupnya.

BabidagingSumbarVirus
Comments (0)
Add Comment