Penjualan Kursi Ban Bekas di Sikka, Meningkat

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Menjelang akhir 2019 dan awal 2020, perajin kursi berbahan ban bekas panen rezeki, karena banyak pembeli yang tertarik menggunakannya.

“Kursinya antik, harganya pun lumayan murah dibandingkan dengan membeli kursi sofa. Yang penting kursinya bisa tahan lama dipakai,” ungkap Rosalina Nona, warga Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (7/1/2020).

Rosa, sapaannya, mengaku ingin mengganti kursi tamu di rumahnya setelah melihat kursi dari ban bekas dipajang di sepanjang jalan di kelurahan Wolomarang dan kampung Beru di kota Maumere.

Aris Nugroho, salah seorang perajin kursi dan meja dari ban mobil bekas saat ditemui di kelurahan Wolomarang, kecamatan Alok Barat, kota Maumere, kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Selasa (7/1/2020). -Foto: Ebed de Rosary

“Saya mau beli kursi sofa, tetapi pas lihat kursi ban bekas dipajang di pinggir jalan akhirnya tertarik membelinya. Harganya pun murah dan bahan untuk lapisannya pun hampir sama dengan sofa dan lembut,” ungkapnya.

Setelah menawar, Rosa membeli satu set kursi dari ban bekas seharga Rp2,5 juta, lengkap dengan sebuah meja dari bahan yang sama untuk ditempatkan di ruang tamu rumahnya.

“Dulu sempat mau beli saat ada orang yang menjualnya menggunkan mobil pick up, tetapi modelnya kurang menarik dan warna bahan lapisannya juga kurang bagus, sehingga saya batal membeli meskipun harganya cuma Rp1,5 juta,” tuturnya.

Sementara itu Aris Nugroho, salah seorang perajin kursi ban mobil bekas mengaku penjualannya meningkat menjelang hari raya Natal 2019 dan mendekati akhir 2019.

“Penjualan memang meningkat, dalam sebulan bisa mencapai 10 set, bahkan 20 set kalau bahan baku tersedia. Sudah banyak masyarakat yang tertarik membeli kursi ini,” ujarnya.

Menurut Aris, perajin kursi dan meja dari ban bekas di Maumere hanya ada satu – dua orang saja, sementara lebih banyak perajin memilih membuat pot bunga dari ban mobil bekas.

“Kalau membuat kursi dan meja dari ban mobil bekas hanya satu dua orang saja, karena sulit mengerjakannya. Kualitas kursi dan meja saya lebih bagus dan pengerjaannya rapi, sehingga banyak yang beli,” terangnya.

Namun, Aris mengaku terkendala modal sehingga belum bisa memenuhi pesanan dari luar kabupaten Sikka, karena ketersediaan bahan baku terbatas, sehingga harus didatangkan dari luar kabupaten Sikka.

“Kalau modal saya banyak, saya bisa beli ban bekas dari luar kabupaten Sikka, sebab berapa pun hasil produksinya pasti laku. Ada pembeli yang memborong lima hingga sepuluh set dan mereka menjual kembali,” tuturnya.

Untuk penjualan, tambah Aris, paling banyak pembeli menyukai kursi berukruan kecil, karena disesuaikan dengan ruang tamu rumahnya yang tidak teralu luas, sementara untuk ukuran besar banyak kalangan manengah ke atas yang membelinya.

20192020BankursimaumereNTTSikka
Comments (0)
Add Comment