Warga Pasuruan Olah Limbah Pasar Jadi Pupuk

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Melimpahnya sampah di pasar tradisional, dimanfaatkan oleh masyarakat Desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan, sebagai bahan pembuatan pupuk kompos.

Sumali, Kepala Desa Pasuruan, menyebut pupuk kompos diperoleh dari sampah organik yang dibuang pedagang sayuran dan buah. Sampah yang diubah menjadi pupuk kompos menjadi bahan pupuk organik.

Menurutnya, proses pemilahan sampah di pasar dilakukan petugas kebersihan, agar tidak tercampur dengan sampah anorganik. Pasar yang beroperasi setiap hari, terutama pedagang sayuran, buah memiliki potensi sampah yang cukup banyak. Sebagai cara meminimalisir sampah di lokasi tempat pembuangan sementara (TPS), jenis sampah organik telah dipisahkan.

Sugeng Haryono (kiri), salah satu aparatur Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, bersama Nasrulah, memanen pupuk cair hasil proses komposter, Selasa (21/1/2020). -Foto: Henk Widi

Pengurangan sampah pasar melalui pemanfaatan alat komposter, menurut Sumali sangat efektif. Sampah organik masih bisa diolah lebih lanjut menjadi kompos. Selain bahan hijauan, bahan organik lain ditambahkan untuk mempercepat pembusukan memakai micro organisme local (MOL). Pembuatan MOL dari nasi basi dan bahan lain berfungsi sebagai bioaktifator dalam pembuatan kompos.

“Tujuan awal pemanfaatan sampah organik dari pasar, tentunya untuk mengurangi sampah organik jenis sayuran dan sampah mudah terurai agar tidak terjadi penumpukan sampah di TPS, selanjutnya bisa memberi manfaat untuk pupuk yang diaplikasikan pada tanaman di kebun sayuran milik desa,” ungkap Sumali, Selasa (21/1/2020).

Pemanfaatan sampah pasar menjadi pupuk kompos dilakukan oleh Desa Pasuruan, memakai komposter. Instalasi tersebut dibuat sedemikian rupa dari drum plastik dilengkapi pipa. Sampah organik yang didominasi sayuran, buah dari pasar akan dimasukkan dalam drum plastik. Setelah sampah dimasukkan dalam drum, penambahan cairan MOL sebagai bioaktivator diperlukan mempercepat pembusukan.

Komposter yang dibuat oleh Desa Pasuruan, menurut Sumali masih skala rumah tangga. Pada tahap awal, 10 komposter dengan kapasitas sekitar 200 kilogram sampah bisa ditampung. Contoh komposter tersebut akan disosialisasikan kepada maayarakat, agar bisa diaplikasikan. Sebab, instalasi komposter bisa dibuat dengan drum bekas, wadah cat bekas dan drum.

“Pemerintah Desa Pasuruan menjadi pilot project atau percontohan nanti, harapannya setiap rumah memiliki instalasi komposter sederhana,” bebernya.

Sugeng Haryono, salah satu aparatur Desa Pasuruan menyebut pemanfaatan sampah pasar memiliki peluang besar. Selain mempercepat proses pembersihan, tingkat kesadaran pedagang memilah sampah akan makin meningkat. Sosialisasi kepada pedagang dilakukan, agar sampah organik yang bisa diolah menjadi kompos tidak dicampur dengan sampah anorganik.

“Pemanfaatan sampah menjadi kompos sekaligus upaya mengedukasi pedagang, bahwa sampah bisa dimanfaatkan lebih lanjut,” papar Sugeng Haryono.

Ia menuturkan, proses pengambilan sampah untuk diolah memakai komposter cukup sederhana. Petugas kebersihan sampah telah diberi tempat khusus untuk mengumpulkan sampah organik. Petugas desa akan mengambil sampah yang telah dipilah, untuk dibawa ke alat komposter yang dimiliki desa.

Butuh waktu sekitar 49 hari, agar sampah organik padat bisa menjadi kompos dan pupuk organik cair susulan (POCS).

Penambahan sampah dilakukan hingga wadah komposter penuh. Memakai penutup khusus, sampah akan tertutup rapat sehingga aroma tidak akan keluar.

Setelah memasuki masa pengomposan, pupuk cair akan keluar melalui selang khusus yang bisa dilepas dan dialirkan ke botol. Hasil POCS bisa langsung diaplikasikan pada tanaman. Sementara pupuk padat bisa dikeringkan, sebelum digunakan pada tanaman.

Melalui pengaplikasian komposter sederhana, Sugeng Haryono menyebut bisa ditiru oleh setiap rumah tangga. Selanjutnya alat komposter skala besar akan dibuat diintegrasikan dengan bank sampah.

Sampah anorganik berupa plastik, botol dan bahan bekas bernilai jual akan dibeli. Sementara sampah organik bisa diolah menjadi kompos dan dijual sebagai pupuk dalam kemasan.

KomposLampungPasarPupukSampah
Comments (0)
Add Comment