Mantan Wasit Nasan SR: Kedisiplinan dan Kejujuran Kunci Kesuksesan

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

BEKASI — Sosok Nasan SR (50), mungkin lebih dikenal sebagai seorang wasit. Pria asli Bekasi tersebut pernah menjadi wasit Nasional memimpin berbagai pertandingan bola bergengsi tanah air. Setelah pensiun, dia fokus di bidang pendidikan dan menjadi Kepala Sekolah SD Negeri Margahayu XIII Kota kelahirannya.

Berkat kedisiplinan dan kejujuran ia pun sudah banyak menerima penghargaan. Bahkan Nasan mengaku sampai lupa berapa penghargaan yang telah dia terima karena sudah lama.

“Penghargaan tersebut tak lain buah dari kedisiplinan dan kejujuran,” sebutnya saat berbincang dengan Cendana News di Bekasi, Jumat (7/2/2020).

Setelah pensiun sejak 2011 lalu sebagai wasit Nasional, nasibnya mungkin terbilang cemerlang. Dia pun sekarang dipercaya menjadi Kepala Sekolah SD Negeri Margahayu XIII. Bahkan Posisinya tetap difungsikan sebagai pengawas pertandingan terutama di Jabar sendiri.

Mungkin namanya sekarang meredup, tapi era tahun 1992-an hingga tahun 2011 nama Nasan, bersileweran dalam setiap pertandingan di Indonesia, karena kerap dilibatkan sebagai wasit utama, asisten atau cadangan.

“Menjadi wasit bukan perkara mudah, apalagi dalam sepakbola. Jika wasit mentalnya kurang, maka rentan tertarik suap,” ungkapnya.

Menurutnya tak jarang ketika satu tim kalah, wasit jadi kambing hitam. Dituding berat sebelah dan lain sebagainya. Meski demikian, banyak yang salut dengan peran wasit ketika tegas dalam memimpin pertandingan.

Menjadi wasit sejak tahun 1992 ketika itu, hanya ada Liga Soeratin dan 2011 dia pun pensiun karena ketentuan umur wasit tidak boleh lebih dari 46.

Selain sebagai wasit, Nasan dulu juga sudah menjadi honor di Kabupaten Bekasi sebelum menjadi Kota Bekasi. Hingga di 007, diangkat sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS.

Dari zaman tak enak sampai enak pernah dirasakan Nasan. Menurutnya menjadi wasit bisa sedikit bergaya sejak 2000-an. Ketika mulai Liga Indonesia, geliat pertandingan bola mulai rutin dan honor pun meningkat.

“Saya jadi wasit tahun 1994 dari honor hanya Rp100 ribu sekali memimpin pertandingan. Honor tertinggi paling Rp1 juta sebelum tahun 2000-an ke atas,” ungkapnya.

Dikatakan menjadi Wasit bebannya berat, pertama harus jeli. Terutama menempatkan posisinya sebagai wasit mulai dari apa yang dibebankan dan mana yang bukan tugasnya, penekanannya harus jujur.

Karena imbuhya ada beberapa pertandingan dimana klub-nya sudah menyatu dengan penontonnya. Sehingga jika salah dalam memutuskan maka habis lah wasit tersebut.

Nasan mencontohkan beberapa klub bola yang sudah menyatu dan diperlukan kehati-hatian tinggi seperti Arema, Persebaya, Persija ataupun Medan Jaya.

“Itu klub memiliki penonton yang fanatik. Sampai wasit salah memutuskan, maka bisa kena keroyok dan lainnya,”ujar Nasan ditemui disela-sela pembahasan persiapan O2SN Kota Bekasi.

Nasan berkisah, bahwa karirnya sebagai wasit di mulai dari Bandung, Jawa Barat. Dia pertama kali memimpin pertandingan Liga Soeratin di Bandung antara Persikab dengan Persikasi.

“Wasit dalam setiap pertandingan bola ada empat, pertama wasit tengah, dua asisten dan satu wasit cadangan. Honornya pun berbeda-beda,” tukasnya.

Meski sudah menjadi Kepala Sekolah Nasan tetap mengembankan kecintaan olahraga kepada generasi penerus terutama di tingkat sekolah dasar yang dipimpinnya.

bekasiwasit
Comments (0)
Add Comment