Masih Banyak Sampah Plastik Berserakan di Sikka

Editor: Koko Triarko

MAUMERE – Sampah plastik, terutama gelas dan botol plastik minuman sering dibuang sembarangan, baik di saluran air maupun di jalan-jalan umum, sehingga saat hujan turun air akan menggenang di dalam gelas dan botol plastik tersebut, dan menjadi tempat berkembangnya nyamuk demam berdarah Aedes aegypti.

“Saat musim hujan, banyak botol plastik yang terdampar di pesisir pantai dan saat gelombang tinggi botol plastik tersebut akan terbawa ke darat, dan menjadi tempat berkembangbiaknya nyamuk,” kata Wenefrida Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, Rabu (12/2/2020).

Susi menyebutkan, pihaknya dari Bank Sampah Flores sudah berulang-ulang memberikan pelatihan mengenai daur ulang dan mempergunakan botol-botol plastik untuk dijadikan aneka kerajinan tangan. Namun pelatihan itu belum banyak diterapkan oleh masyarakat, sehingga butuh pengawasan dan motivasi dari pemerintah desa atau kelurahan.

“Saya salut dengan kecamatan Kangae di kabupaten Sikka yang membuat lomba kebersihan antar Rukun Tetangga (RT). Ini kegiatan positif yang bisa mencegah terjadinya berbagai penyakit berbasis lingkungan, termasuk demam berdarah,” katanya.

Wenefrida  Efodia Susilowati, Direktur Bank Sampah Flores, saat ditemui di rumahnya di desa Habi, kecamatan Kangae, kabupaten Sikka, provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu (12/2/2020). Foto: Ebed de Rosary

Ia mengandaikan, jika 21 kecamatan di kabupaten Sikka secara rutin menggelar lomba kebersihan antar RT, RW, desa atau kelurahan serta antar sekolah, maka semua akan berlomba-lomba membersihkan lingkungannya.

Menurutnya, harus ada daya dorong yang bisa memacu motivasi masyarakat untuk peduli terhadap kebersihan lingkungan masing-masing, karena selain membuat lingkungan bersih dan nyaman, masyarakat juga terbebas dari penyakit berbasis lingkungan.

“Kami dari Bank Sampah Flores memang selalu bekerja sama dengan desa-desa di kecamatan Kangae dalam memberikan edukasi dan pelatihan terkait penanganan sampah, terutama sampah plastik. Camat Kangae sangat peduli akan kebersihan, sehingga memudahkan kami untuk bekerja sama,” terangnya.

Sementara itu, dokter RS TC Hillers Maumere, dr.Asep Purnama yang juga pegiat malaria, merasa heran dengan perilaku masyarakat yang beum sadar akan kebersihan, sehingga tidak heran kasus demam berdarah terus terjadi.

Menurut Asep, pemerintah memang sudah bekerja keras dan maksimal, tetapi kasus demam berdarah terus terjadi, bahkan Kejadian Luar Biasa (KLB) sudah berlangsug selama 5 kali.

“Korban jiwa setiap tahun terus berjatuhan, terutama anak-anak, meskipun pemerintah sudah bekerja keras. Kita memang kerja keras memberantas demam berdarah, tetapi kita belum melakukan kerja cerdas,” tuturnya.

Ia menegaskan, langkah preventif jauh lebih efektif dibandingkan dengan langkah kuratif, di mana kita seolah-olah berperan sebagai pemadam kebakaran ketika ada kebakaran, tetapi tidak mencegah terjadinya kebakaran.

“Lebih efektif melakukan pemberantasan jentik dan tempat berkembangbiaknya jentik harus disingkirkan, agar nyamuk demam berdarah tidak berkembangbiak,” punngkasnya.

FloresNTTPlastikSampahSikka
Comments (0)
Add Comment