Kisah Husni Ray, Mantan Petinju Hebat Indonesia

Editor: Makmun Hidayat

BEKASI — Husni Ray, mantan petinju Indonesia era Orde Baru, dan pelatih tingkat nasional tersebut, sudah empat tahun ini tidak lagi berada di ring untuk melatih petinju amatir berbakat.

Ditemui Cendana News, Sabtu (14/3/2020), di ajang kejuaraan sepatu roda di areal GOR Chandrabaga Kota Bekasi, Jawa Barat, Husni Ray, mengaku semua harinya dicurahkan untuk mengurus sang cucu yang memiliki hobi olahraga sepatu roda.

“Saya punya dunia baru sekarang, yakni sepatu roda. Bagi saya sangat menyenangkan bisa bersama cucu, yang memiliki bakat dan hobi dibidang sepatu roda,” ungkap Husni Ray ditemui ketika mendampingi cucunya di kejuaraan sepatu roda.

Husni Ray mengaku, terakhir di dunia tinju pada tahun 2016 dalam kegiatan PON. Pada 2015  Husni Ray menjadi pelatih tinju di Seagame dan kini tidak lagi berkecimpung di olahraga menantang tersebut.

Namun, hal tersebut menurutnya tidak menghilangkan kecintaannya di dunia tinju. Olahraga tersebut dia anggap sebagai olahraga paling sportif dibanding olahraga lainnya.

Husni Ray, menjadi petinju sejak usia 13 tahun tepatnya pada tahun 1976. Kecintaannya di dunia tinju, ditularkan oleh kakaknya sendiri yang memang lebih dulu menekuni tinju. Hingga hal tersebut membuatnya total menekuni tinju.

Berbagai prestasi telah diraihnya sejak tahun 1979 sudah menjadi juara nasional turnamen terbuka kelas 42 kg, kemudian 1984 juara sarung tinju emas kelas 45 kg, dan 1986 juara Perunggu Seagame  Jakarta 45 kg. Dan sebagai juara nasional dari 1982-1987 kelas 45 kg.

“Tapi yang berkesan di kelas Amatir tingkat internasional juara Emas President Cup kelas 45 kg pada tahun 1987. Dan juara Juara Internasional tahun 1991, IBF koninental di Bontang, Kalimantan menang K.O di ronde ke 10,” tegasnya.

Husni Ray, mantan juara tinju Indonesia ditemui Cendana News saat ikut mendampingi cucunya dalam kejuaraan sepatu roda di GOR Chandrabaga Kota Bekasi, Sabtu (14/3/2020). -Foto: M. Amin

Saat itu Husni Ray, mengalahkan petinju Filipina. Dia mengaku dari semua lawan dia lebih berat saat berhadapan dengan petinju Thailand. “Saya KO di ronde ke 4 melawan petinju Thailand,” paparnya.

Sejak 1992, setelah berhenti jadi petinju nasional, Husni Ray, didaulat menjadi pelatih di berbagai perkumpulan baik militer atau lainnya. Sehingga dia mengaku kesibukannya memaksanya jarang pulang ke rumah.

Kini dari semua anaknya tidak ada yang melanjutkan karier sang ayah. “Dari anak tidak ada, ga tau kalo cucu lihat saja, jika berbakat tentu akan saya arahkan,” tukasnya mengaku sudah lama mundur dari kepengurusan Pertina Kabupaten Bekasi.

Saat ini usia Husni Ray sudah 57 tahun. Dia mengaku selama 40 tahun waktunya total dihabiskan di tinju mulai dari atlet, pelatih dan organisasi seperti Pertina. Kini dia sebagai memilih pensiun dan fokus bersama cucunya.

“Tinju bagi saya sangat istimewa, mengajarkan akan sportifitas. Karena meski di ring saling pukul untuk menjatuhkan, tetapi semua itu akan sirna dan berpelukan setelah lonceng pertandingan selesai di dentangkan,” ucapnya.

Untuk petinju muda Husni Ray berpesan berlatihlah yang keras dan serius karena tinju harus fokus sehingga hasilnya akan beda ketika berlatih biasa saja.

Sementara untuk negara dia berharap pemimpinnya harus serius mengembangkan olahraga. Karena Indonesia menjadi juara dunia sangat mungkin asalkan pembinaan serius tidak sporadis.

“Selama ini, yang terjadi latihan digenjot saat menjelang pertandingan. Setelah event selesai, tidak ada pembinaan dan pelatihan. Dia mencontohkan bulu tangkis yang dibina secara terus menerus dan hasilnya juga bagus,” jelasnya.

Artinya, pembinaan sangat penting di bidang olahraga. “Begitu pun pelatih berikanlah kesempatan bagi pelatih muda sekiranya berbakat. Tidak pelatihnya itu-itu saja,” pungkasnya

Husni RayJabarKota BekasipelatihPetinju
Comments (0)
Add Comment