Meneladani Sosok Pahlawan Ismail Marzuki

Editor: Koko Triarko

BEKASI – Ismail Marzuki, lelaki Betawi asli, kelahiran Kwitang – Jakarta, 11 Mei 1914 dikenal bukan saja sebagai komponis dan pencipta puluhan lagu perjuangan atau nasional, namun juga pencipta lebih dari 250 lagu lainnya. 

Karya lagu Ismail Marzuki, seperti Aryati, Gugur Bunga, Melati di Tapal Batas (1947), Wanita, Rayuan Pulau Kelapa, Sepasang Mata Bola (1946), Bandung Selatan di Waktu Malam (1948), O Sarinah (1931), Keroncong Serenata, Kasim Baba, Hari Lebaran, Halo-Halo Bandung hingga Indonesia Pusaka dan lainnya terus melegenda.

Berkat kepiawaiannya dalam menciptakan lagu serta syair dalam beberapa bahasa disertai memainkan berbagai alat musik, pada 2004 Pemerintah RI menganugerahi Gelar Pahlawan Nasional kepada Bang Maing, demikian sapaan akrabnya.

Majayus Irone, Budayawan juga sebagai Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Melayu Betawi (LKMB) Provinsi Jawa Barat, mengisahkan sosok Ismail Marzuki sebagai inspirasi bagi generasi penerus akan kegigihannya dalam belajar, Minggu (1/3/2020). –Foto: M Amin

Budayawan Betawi Bekasi, Maja Yusirwan, akrab disapa Majayus Irone, mengakui bahwa hal tersebut adalah sebuah ganjaran yang pantas untuk lelaki hebat sekaliber Ismail Marzuki.

Menurutnya, sisi menarik untuk dikulik dari sosok komponis Ismail Marzuki adalah dari kehidupannya yang berkenaan dengan pendidikan, proses belajar, serta prestasi di bidang tersebut.

“Ismail Marzuki memang bukan manusia sempurna dalam capaian pendidikannya. Dia yang pernah hidup di dua masa penjajahan Jepang dan kolonial Belanda, tentu tidak mudah untuk mengecap pendidikan yang baik,”ujar Aki Maja, kepada Cendana News, Minggu (1/3/2020).

Ismail Marzuki dilahirkan dari keluarga biasa, rakyat jelata yang memiliki keterbatasan ekonomi. Hal tersebut tentu menjadi alasan beliau tidak mengecap pendidikan secara baik, apalagi memperoleh gelar dan titel yang dapat dibanggakan.

Ismail Marzuki, diceritakannya dalam mengenyam pendidikan tak pernah tuntas. Masa itu untuk bersekolah begitu sulit, penuh keterbatasan serta ada kekhususan untuk kaum bangsawan serta orang-orang kaya saja.

Namun, imbuh Aki Maja, semangat belajar tidak mengenal lelah, menggali ilmu dari berbagai sumber secara otodidak, belajar langsung kepada tokoh yang memiliki ilmu pengetahuan adalah kegigihan yang luar biasa dilakukan anak kampung di masanya.

“Bayangkan saja pada era kolonial di mana pendidikan memiliki keistimewaan dan mahal, seolah hanya menjadi hak orang kaya dan kaum bangsawan. Ismail Marzuki tidak pernah kehabisan akal untuk tetap menggali ilmu pengetahuan,” papar Aki Maja.

Bahkan dalam bermain musik, seorang Ismail Marzuki rela menghabiskan waktunya untuk melihat, menguping,

mendengarkan, menonton dengan saksama. Hingga akhirnya dengan alat yang dimilikinya, mampu mengaplikasikan pengetahuan tersebut secara mandiri.

“Kegigihan mencari ilmu pengetahuan inilah yang menjadi daya tarik yang harus diwariskan pada generasi milenial sekarang,” tukasnya.

Dalam kehidupan modern, sekarang teknologi informasi telah menjajah seluruh sendi kehidupan, kenapa harus bermalas diri untuk belajar dan menggali ilmu pengetahuan?

“Kita malu dengan perjuangan gigih yang sudah dilakukan oleh orang besar sekelas Ismail Marzuki. Sekarang teknologi, ilmu pengetahuan, gadget dan alat transportasi di satu sisi menjadi alat bantu yang memudahkan manusia untuk belajar, mengejar ilmu pengetahuan,” ucapnya.

Di sisi lain, lanjutnya, kecanggihan teknologi berpotensi menjadi penghambat ketika kemajuan ilmu pengetahuan, transportasi, gadget salah dalam pemanfaatan.

Tak sedikit pelajar yang sukses karena bantuan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Tapi, berapa banyak  pelajar yang gagal meraih cita-cita karena terbius sisi negatif kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dikatakan, belajar pada era kolonial yang digeluti sosok Ismail Marzuki dengan mengedepankan integritas dan martabat sebagai pribumi dalam kerumunan penjajah asing, tetap membentuk dirinya menjadi sosok yang tidak luntur ke-Indonesia-annya.

“Jati diri dan identitas dirinya sebagai pribumi, bukan ‘ibarat kacang yang lupa pada kulitnya’, karena tingkat kepopuleran yang diperolehnya hingga mancanegara,” jelasnya.

Namun, saati ini dia mengaku prihatin kebanyakan pelajar hari ini makin kehilangan karakter, jatidiri, integritas dan nasionalisme. Sehingga beberapa kali pemerintah melalui Depdiknas terus menggodok kurikulum bermuatan karakter (character building), penanaman pendidikan karakter, mengedepankan gerakan literasi dan kehidupan yang lebih agamais dan bermoral.

“Pendek kata tujuan paripurna yang ingin digapai sebagai outcome pendidikan adalah menciptakan manusia yang berintelegensi, beretika dan berestetika,” tegasnya.

Ismail Marzuki sudah mencontohkan sejak era kolonial. Tugas generasi penerus pesannya untuk mengaplikasikan kebaikan  tersebut dalam mengisi negeri yang telah mereka wariskan.

“Belajar tanpa mengenal lelah, bermartabat dan jangan ragu dengan kemampuan otodidak,” pungkas Majayus Irone, Ketua Umum Lembaga Kebudayaan Melayu Betawi (LKMB) Provinsi Jawa Barat.

ismailJabarlagu perjuanganmusikpahlawan
Comments (0)
Add Comment