Mengambil Pelajaran Berharga dari Ledakan PLTN Chernobyl

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

JAKARTA – Kecelakaan nuklir yang hingga kini diingat oleh masyarakat dunia adalah meledaknya Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Chernobyl pada 34 tahun yang lalu. Tepatnya pada 26 April 1986 di Ukraina yang pada saat itu masih bergabung dengan Rusia.

Peneliti Senior Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Djarot S. Wisnubroto, menyatakan, Chernobyl adalah suatu kecelakaan reaktor nuklir no 4 pada 26 April 1986 akibat human error.

“Kecelakaan tersebut menewaskan 42 orang, dan memicu kanker pada ribuan orang dalam jangka panjang. Human error yang terjadi adalah petugas reaktor mengabaikan rambu keselamatan, dan pemerintah setempat berusaha menutupi kejadian sebenarnya,” kata Djarot saat dihubungi, Selasa (28/4/2020).

Dari kecelakaan itu, Djarot menyatakan pelajaran berharga yang dapat diambil adalah keselamatan itu memerlukan syarat mutlak transparansi, keterbukaan.

“Masyarakat berhak tahu segala hal yang berisiko bagi mereka. Pihak otoritas wajib menyiapkan mitigasi apabila kecelakaan terjadi, sehingga munculnya korban bisa dicegah atau diminimalisir,” ujarnya tegas.

Sebagai contoh, menurutnya, di sekitar reaktor BATAN di Serpong selalu dilakukan latihan kedaruratan yang melibatkan pemangku kepentingan sehingga siap sewaktu-waktu bila ada kejadian tak normal.

“Biasanya setahun sekali tapi tidak pada tanggal yang tetap, karena terkadang ada permintaan khusus dari institusi lain yang mendadak. Misalnya, beberapa waktu lalu, TNI ingin melakukan di luar yang sudah kita tetapkan,” ungkapnya.

Hal senada juga diungkapkan oleh Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN, Dhandhang Purwadi, yang menyatakan kecelakaan di reaktor Chernobyl murni karena keteledoran manusia.

Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) BATAN, Dhandhang Purwadi, saat dihubungi, Selasa (28/4/2020) – Foto: Ranny Supusepa

“Kecelakaan itu disebabkan oleh kesalahan manusia dalam hal ini operator yang melakukan suatu eksperimen pada daya tingkat rendah atau di bawah daya nominal sebelum reaktor dimatikan,” kata Dhandhang saat dihubungi terpisah.

Sebetulnya menurutnya, reaktor chernobyl saat itu sudah dilengkapi dengan sistem otomatisasi, namun untuk kepentingan eksperimen, sistem otomatisasi yang menghambat penurunan daya dimatikan. Dengan matinya sistem otomatisasi, akhirnya dalam penurunan daya yang dilakukan secara manual tersebut melampaui batas keselamatan yang dipersyaratkan.

“Tidak lama kemudian terjadi lonjakan energi secara tiba-tiba yang tak terduga. Ketika operator mencoba mematikan secara darurat, terjadi lonjakan daya yang sangat tinggi yang menyebabkan tangki reaktor pecah dan diikuti serangkaian ledakan uap,” ujarnya

Ledakan ini menyebabkan kebakaran hebat yang berlangsung selama seminggu penuh dan melepaskan debu partikel radioaktif ke udara.

“Ledakan ini membahayakan bagi operator di sekitar reaktor karena radiasi alpha, beta, dan gamma memancar langsung dari pusat reaktor yang perisai radiasinya sudah rusak,” ujarnya lebih lanjut.

Zat radioaktif yang terdapat di dalam teras reaktor dapat berupa gas, bahan yang mudah menguap (volatil) dan bahan yang tidak menguap (non volatil).

Zat radioaktif yang berbentuk gas maupun volatil, jelas Dhandhang, akan mudah terbawa oleh angin, dan kalau sampai masuk ke dalam tubuh manusia akan sangat membahayakan.

“Kecelakaan pada PLTN chernobyl terjadi karena adanya reaktivitas positif reaktor yang menyebabkan hilangnya kemampuan pengendalian terhadap keberlangsungan reaksi fisi berantai,” urainya.

Agar kecelakaan PLTN chernobyl tidak terjadi lagi, semua teras reaktor nuklir pasca-kecelakaan itu dirancang sedemikian rupa sehingga tidak mempunyai reaktivitas positif pada semua tingkat daya.

“Kalaupun ada reaktivitas positifnya hanya rendah dan masih bisa ditolerir dalam batas keselamatan. Di PLTN Chernobyl, reaktivitas positif reaktor hanya pada tingkat daya tertentu saja, tidak di semua tingkat daya,” pungkasnya.

BatanChernobylJakartaNuklirPLTN
Comments (0)
Add Comment