PAK HARTO: TAPOS HADIR UNTUK ATASI PERMASALAHAN KEKURANGAN SUMBER PROTEIN DI INDONESIA

Selain pertanian, Presiden kedua Republik Indonesia, Jenderal Besar HM Soeharto juga sangat peduli terhadap asupan protein (peternakan) yang menjadi bagian penting dari tumbuh kembang otak manusia. Kehadiran Peternakan Tapos salah satunya menjawab tantangan tersebut.

“Kehadiran Tapos maksudnya dalam rangka strategi untuk dapat turut serta mengatasi permasalahan kekurangan sumber protein. Salah satu upayanya yakni memperbaiki ternak dari rakyat Indonesia,” sebut Pak Harto dalam temu wicara dengan Sesko ABRI di Tapos, 24 Desember 1995.

Peternakan yang diberi nama Tri-S Ranch atau singkatan dari Sari Silang Stud, bertujuan untuk membantu program pemerintah dalam perbaikan mutu ternak dengan jalan perkawinan. Selain berfungsi sebagai tempat pembibitan berbagai jenis sapi unggul dari luar negeri, juga merupakan suatu pusat penelitian bagi penyediaan, penanaman dan pengawetan makanan ternak.

“Peternakan ini menghasilkan suatu bibit unggul, pejantan unggul yang merupakan stud jantan, diambil sarinya kemudian disilangkan dengan sapi kita. Tapos ini berdiri untuk memperbaiki daripada ternak-ternak kita. Syukur Alhamdulillah sudah berjalan dengan baik,” sebut Bapak Pembangunan.

Pak Harto mengatakan, di Tapos sendiri memang tidak ada proses perkawinan silang, karena peternakan lebih mengusahakan bibit murni dengan tujuan menghasilkan bibit unggul asal luar negeri yang telah beradaptasi dengan iklim Indonesia. Pemuliaan ternak melalui penyilangan dengan tujuan menciptakan jenis bibit baru yang khas Indonesia, kegiatan menghasilkan pejantan yang baik dengan tujuan untuk disebarkan kepada usaha-usaha peternakan di seluruh Indonesia.

Bapak Pembangunan menyebutkan, yang upayakan di Tapos antara lain sapi perah, yang menyediakan susu yang baik untuk rakyat Indonesia, terutama balita. Selain itu juga ada sapi potong.

Disebutkan Pak Harto, bagi rakyat yang mampu dapat membeli sapi yang besar. Tapi bagi rakyat yang tidak mampu disediakan ternak-ternak yang kecil, seperti domba yang tengah diperbaiki kualitasnya.

“Domba-domba kita itu kecil-kecil tapi mampu beranak 2 kali dalam setahun. Berbeda dengan domba di luar negeri yang besar namun cuma beranak satu kali dalam setahun. Kita usahakan memperbaiki domba-domba kita dengan kawin silang agar mendapatkan hasil maksimal,” sebut Pak Harto.

Dalam soeharto.co, Pak Harto menyebutkan, ia sengaja mendatangkan sapi-sapi unggul dari luar negeri untuk dikembangkan dan disilangkan dengan sapi-sapi yang ada di Indonesia, seperti: Persilangan antara sapi Brahman Australia dengan jenis Anggus, hasil silangannya diberi nama “Brangus”. Sapi Santra Gertrudis disilangkan dengan sapi Madura, menghasilkan jenis sapi “Matrali”. Begitu juga kambing Suffolk Australia disilangkan dengan Gibas menghasilkan “Safbas” dan kambing Dorset Merino Australia disilangkan dengan Gibas menghasilkan “Dorbas”.

Narasi ini bagian dari Temu Wicara Presiden Soeharto dengan Sesko ABRI di Tapos, 24 Desember 1995

Bapak PembangunanHM SoehartoJenderal Besar HM Soehartopak hartoPeternakan TaposPresiden Soeharto
Comments (0)
Add Comment