Pertahanan Berlapis, Batan Nyatakan Reaktor Riset Nuklir Aman

Redaktur: Muhsin E Bijo Dirajo

JAKARTA — Berbicara tentang nuklir, pasti akan langsung teringat dengan peristiwa Chernobyl. Rasa takut yang timbul akibat dampak kejadian itu pada lingkungan, membuat banyak orang menolak pemanfaatan nuklir termasuk PLTN (Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir). Padahal PLTN generasi sekarang sudah mengedepankan kaidah keselamatan yang lebih baik dan lebih ketat.

Kepala Pusat Reaktor Serbaguna BATAN Yusi Eko Yulianto saat dihubungi, Selasa (28/4/2020) – Foto Ranny Supusepa

Kepala Pusat Teknologi dan Keselamatan Reaktor Nuklir (PTKRN) Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Dhandang Purwadi menyebutkan, perancangan PLTN generasi sekarang, menganut filosofi pertahanan berlapis (defense in depth).

“Untuk menjaga penyebaran zat radioaktif ke lingkungan dirancang sistem fisik penghalang ganda (multiple barriers). Kaidah sistem keselamatan seperti ini lah yang tidak diimplementasikan secara sempurna di PLTN Chernobyl,” kata Dhandang saat dihubungi, Selasa (28/4/2020).

Ia menyatakan, penerapan sistem keselamatan pengoperasian reaktor ini, juga berlaku pada reaktor riset. Ketiga reaktor riset yang ada di Indonesia yakni Reaktor Triga 2000 di Bandung, Kartini di Yogyakarta, dan GA. Siwabessy di Serpong telah menerapkan kaidah fail-safe (gagal-selamat), defense in depth, dan multiple barriers yang memadai.

“Saat ini teknologi reaktor telah berkembang pesat, keselamatan reaktor yang didesain pada akhir-akhir ini telah mengedepankan prinsip desain inherent safety (keselamatan melekat) dan sistem keselamatan pasif (pasive safety system) yang tinggi. Penelitian tentang inherent safety dan pasive safety terus berkembang dan dilakukan di BATAN,” ucapnya.

Kepala Pusat Reaktor Serbaguna BATAN, Yusi Eko Yulianto menyatakan sama 33 tahun beroperasi tidak pernah ada kasus keselamatan yang terjadi.

“Karena reaktor dioperasikan sesuai dengan SOP dan adanya desain keselamatan yang baik dari konstruktornya (Interatom GmBH, Jerman) yang menyertai,” kaya Yusi saat dihubungi terpisah.

Ia menyatakan desain, konsep penyelenggaraan sistem keselamatan reaktor RSG-GAS (Reaktor Serbaguna GA Siwabessy) menganut konsep pertahanan berlapis (defense in depth) dan sistem pertahanan berlapis (multiple barrier).

“Bahkan terhadap agregat dan sistem yang menyelenggarakan fungsi-fungsi keselamatan memiliki kemampuan untuk gagal aman (fail safe), disamping itu sistem dan sub-sistem yang bekerja dirancang secara redundan dan diversity, sehingga adanya risiko yang tinggi dari adanya bencana yang dapat merusak sebagian dari sub-sistem dapat mengantisipasi. Sehingga tidak akan menggagalkan sistem keselamatan secara keseluruhan,”ujarnya.

Desain keselamatan di reaktor, menurutnya, sudah dirancang untuk mengantisipasi adanya kesalahan manusia dalam mengoperasikan. Oleh sebab itu bila terjadi penyimpangan nilai parameter yang terukur dalam sebuah sub-sistem, maka sistem akan melakukan interlock dan melakukan safe shutdown.

“Seorang operator reaktor harus memahami betul perilaku sistem yang dioperasikan dan tentunya mampu menjalankan operasi dengan tahapan yang runut dan penuh kesabaran. Kegiatan manuver daya reaktor hanya dapat dilakukan hanya dengan penuh kehati-hatian dan sabar,” paparnya.

Artinya bila ada kejadian lonjakan (spontan) daya yang disengaja atau tidak, maka hanya akan menghasilkan eksekusi shutdown reaktor secara otomatis atau disebut dengan istilah Scram, dan pada saat sekejap batang pengendali daya reaktor sudah pada posisi fully inserted ke dalam teras reaktor untuk memadamkan reaksi fisi yang sedang terjadi di teras reaktor. Pada saat itu reaktor mengalami pemadaman.

“Sistem proteksi reaktor akan bekerja memadamkan reaktor (scram)seketika apabila 50 parameter penting di reaktor tersebut menghasilkan pengukuran melebihi batas-batas yang ditentukan. Oleh sebab itu penting bagi operator untuk terus mengamati tren daripada suhu, tekanan, laju alir pendingin, radiasi dan lain sebagainya untuk bekerja pada harga-harga normalnya,” urainya lebih lanjut.

Selain sistem yang bersifat manual untuk melakukan start-up dan shutdown reaktor, sistem kendali reaktor dilengkapi dengan sistem otomatis untuk mempertahankan pengoperasian reaktor pada daya tertentu.

Disamping sistem pemadaman darurat (emergency shutdown) yang ada di ruang kendali, reaktor RSG-GAS juga dilengkapi dengan sistem pemadaman darurat di lapangan. Fasilitas ini memungkinkan bagi operator/supervisor untuk melakukan scram dari luar ruang kendali.

“Sistem keselamatan dan keamanan yang dimiliki oleh reaktor RSG-GAS merupakan asset yang dapat memberikan jaminan aman dan selamat kepada para pihak yang bekerja di reaktor tersebut, instalasi reaktornya sendiri dan bagi lingkungan daripada reaktor tersebut berada,” pungkasnya.

BatanChernobylNuklirPLTN
Comments (0)
Add Comment