Budi Daya ‘Rumput’ Hias Beromzet Jutaan Rupiah

Editor: Koko Triarko

YOGYAKARTA – Memanfaatkan lahan pekarangan sempit di belakang rumahnya, pemuda lulusan Teknik Pertanian UGM, sukses menjadi pembudidaya tanaman hias untuk keperluan hobi aquascape. Dialah Dwicahyo Hanantyo (29), warga Samirono Baru, Caturtunggal, Depok, Sleman, Yogyakarta. 

Meski telah memiliki hobi membuat aquascape sejak 2013, petani milenial yang akrab disapa Tyok ini, mengaku baru serius menekuni usaha budi daya tanaman aquascape sejak tiga tahun terakhir. Ketertarikannya muncul setelah melihat masih minimnya pembudidaya tanaman hias aquascape yang ada di Yogyakarta.

“Jumlah penghobi aquascape di Yogyakarta boleh dibilang sangat banyak. Sementara petani tanaman hias aquascape masih sangat minim. Kebanyakan tanaman justru didatangkan dari Bogor. Karena itu saya mencoba-coba budi daya sendiri. Apalagi potensi keuntungannya juga sangat bagus,” ungkapnya, Selasa (12/5/2020).

Tyok sendiri mengaku hanya memanfaatkan wadah plastik berupa nampan serta ember bekas untuk budi daya tanaman hias aquascape miliknya. Ratusan jenis tanaman hias aquascape dibudidayakan dengan media tanah basah berlumpur. Seperti dari genus Ludwigia, Rotala, Alternanthera, Hygrophila, dan lainnya.

“Tanaman hias aquascape yang saya budidayakan kebanyakan adalah jenis Stem Plant atau yang membutuhkan media tanam berupa tanah atau pasir. Mayoritas berasal dari Amerika Latin. Di alamnya, tanaman ini biasa hidup di kawasan pasang surut air seperti rawa atau sungai. Sehingga cocok dipelihara di dalam akuarium,” jelasnya.

Meski merupakan tanaman air, Tyok memilih membudidayakannya di darat, karena pertumbuhannya yang jauh lebih cepat dibandingkan jika dibudidayakan di dalam air. Hanya dalam kurun waktu satu minggu sejak awal tanam, tanaman pun sudah siap dipanen. Pemanenan juga bisa dilakukan setiap hari.

“Karena sebenarnya tanaman ini hanya sejenis rumput. Sehingga sangat mudah tumbuh dan berkembang. Perawatannya juga sangat sederhana. Hanya rutin diberi pupuk dan disiram seperti halnya tanaman biasa,” ungkapnya.

Setelah panen, tanaman hias aquascape perlu diadaptasi terlebih dahulu agar bisa tetap hidup saat dipelihara di dalam air. Biasanya adaptasi ini membutuhkan waktu sekitar satu minggu. Setelah tanaman bisa beradaptasi dengan baik, tanaman pun siap untuk dijual atau dipasarkan.

“Untuk harga bervariasi, rata-rata mulai dari Rp300, sampai Rp5.000 per batang. Tergantung jenisnya. Yang paling mahal ada jenis Rotaka Ramorsior dari Florida, harganya bisa sampai Rp50.000-100.000 per batang dengan tinggi 10 cm. Untuk tanaman yang sudah bisa beradaptasi di air, harganya sedikit lebih mahal,” ungkapnya.

Selain menjual secara online, Tyok mengaku juga menjual tanaman aquascape hasil budi daya miliknya ke sejumlah reseller. Dalam sebulan, omzet yang dihasilkan mampu mencapai Rp4-6juta. Jumlah yang cukup besar untuk usaha skala rumahan atau minifarm.

“Selain menjual tanaman hias hasil budi daya, kita juga menerima jasa setting aquascape. Termasuk menjual berbagai kebutuhan aquascape lainnya seperti pupuk dasar, pupuk cair, Co2, pasir, batu, dan sebagainya,” ungkapnya.

AquascapeDIYhobiomzetrumputYogyakarta
Comments (0)
Add Comment