Gubernur Jateng Tolak Penyebutan Solo Zona Hitam Covid-19

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

SEMARANG – Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo, menolak penyebutan bahwa Kota Solo (Surakarta), masuk dalam zona hitam penyebaran covid-19. Dirinya mempertanyakan acuan yang digunakan, dalam pelabelan tersebut.

“Kata siapa Solo, zona hitam covid-19? Jare sopo? Saya tidak mengerti kenapa Solo mendapat predikat sebagai zona hitam penyebaran covid-19. Termasuk heran, kenapa tiba-tiba status itu diberikan,” paparnya di Semarang, Selasa (14/7/2020).

Jika hal tersebut diberikan mengacu pada meningkatnya jumlah kasus covid-19 di kota tersebut, terutama terkait sebanyak 25 nakes yang terpapar, sejauh ini sudah dilakukan tindakan. Baik berupa perawatan hingga tracking ke kontak erat dari masing-masing pasien positif.

“Dari dua klaster baru penyebaran covid-19 di Solo tersebut, keduanya sudah dilakukan tindakan-tindakan. Tracking, tes massal hingga isolasi sudah diterapkan untuk memutus mata rantai penyebaran. Maka kok banyak yang bilang zona hitam. Saya juga heran,” tandasnya.

Padahal jika dilansir dari laman corona.jatengprov.go.id, per hari ini, Selasa (14/7/2020) pukul 18.00 WIB, di Kota Solo (Surakarta) hanya ada 14 pasien positif covid-19, ODP 6 dan PDP 19. Jumlah tersebut, jauh lebih kecil jika dibanding dengan Kota Semarang dengan kasus positif sebanyak 858 atau Jepara sebanyak 516.

Sementara, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Jateng Yulianto Prabowo, menyebutkan dalam zonasi penyebaran covid-19, tidak mengenal tingkatan zona hitam.

“Ada ada 15 indikator utama penentu zonasi covid-19. Indikator tersebut terdiri dari 11 indikator epidemiologi, 2 indikator surveilans kesehatan masyarakat, dan 2 pelayanan kesehatan. Indikator inilah yang digunakan pemerintah, untuk menentukan zonasi Corona berdasarkan skor yang didapatkan,” paparnya.

Terbagus, zona hijau, merupakan wilayah yang tidak memiliki kasus baru covid-19, dan risiko penularannya kecil. Kemudian zona kuning, terlihat dari kasus baru tapi jumlahnya kecil. Selain itu, penularan atau transmisi juga masih, namun ada kemungkinan bisa terjadi.

Jika menggunakan 15 indikator yang ditetapkan tim gugus tugas, skor untuk wilayah yang termasuk ke dalam zona kuning berada di rentang 2,5 sampai 3,0. Kemudian berturut-turut zona oranye dan merah.

“Untuk zona merah, dari segi penularan atau transmisinya dipastikan meluas dengan sangat cepat dibandingkan pada zona-zona lainnya. Pada zona merah atau disebut juga zona dengan risiko paling tinggi, skor yang didapatkan antara 0 sampai 1,8,” tegasnya.

CovidJatenglabelzona
Comments (0)
Add Comment