Ikan Dilindungi Sering Tersangkut Jaring Nelayan di Flotim

Editor: Koko Triarko

LARANTUKA – Perairan di Kecamatan Ilebura, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, merupakan wilayah perairan yang tenang dan berarus, karena berada di selat antara Pulau Solor dan Flores.

Selain itu, berada di dekat gunung berapi membuat wilayah perairan ini selalu dipenuhi plankton yang merupakan makanan ikan, sehingga banyak ikan kecil berkumpul di perairan ini, terutama di teluk sekitar Pulau Konga.

“Banyak ikan-ikan kecil, sehingga membuat penyu, hiu paus dan beberapa jenis ikan yang dilindungi sering memburu ikan-ikan kecil di perairan ini,” kata Apolinardus Y.L. Demoor, Kepala Bidang Perijinan Usaha dan Sumber Daya Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur, Minggu (19/7/2020).

Dus menyebutkan, para nelayan di wilayah ini melalui Kelompok Pengawas Masyarakat (Pokmaswas), sering melaporkan kepada Tim Penyelamatan Laut Kabupaten Flores Timur, bila mendapatkan ikan dan mamalia laut yang dilindungi.

Kepala Bidang Perizinan Usaha dan Sumber Daya Perikanan Dinas Perikanan Kabupaten Flores Timur, NTT, Apolinardus Y.L. Demoor, saat ditemui, Minggu (19/7/2020). -Foto: Ebed de Rosary

Para nelayan sering melaporkan adanya ikan pari manta, hiu paus dan juga penyu yang sering terkena jaring nelayan, baik nelayan kapal lampara, bagan maupun nelayan yang menggunakan pukat hanyut.

“Banyak penyu dan ikan yang dilindungi sering terjerat di pukat atau jaring yang dilepas nelayan untuk menangkap ikan. Pernah ada beberapa hiu paus yang tersangkut di jaring, namun berhasil dibebaskan lagi,” ungkapnya.

Hiu paus dan penyu, kata Dus, sering memburu gerombolan ikan-ikan kecil untuk dimakan. Wilayah perairan ini banyak terdapat ikan-ikan kecil yang menjadi makanan penyu dan hiu paus.

Tim penyelamatan laut Flores Timur, sebutnya, selalu melakukan patroli sehingga para pengebom ikan yang berasal dari luar Flores Timur sudah hampir tidak terlihat melakukan aksinya di perairan kecamatan Ilebura.

“Selain menghidupkan peran Pokmaswas yang selalu memberikan laporan, bila menemukan adanya aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan,” ujarnya.

Pokmaswas, tambah Dus, juga selalu melaporkan bila ada ikan, penyu dan mamalia laut lainnya yang tertangkap oleh nelayan, agar timnya datang membantu melepaskan kembali ke laut.

Ketua Pokmaswas Aha Belen, Desa Nurabelen, Kecamatan Ilebura, Damianus Nusa Blolon, mengaku sejak Mei hingga Juli sudah beberapa kali nelayan melepaskan penyu, termasuk penyu belimbing, hiu paus dan pari manta yang terkena jaring nelayan.

“Penyu belimbing dan hiu paus bisa dilepaskan kembali ke laut dengan selamat, namun pari manta akhirnya mati karena terlambat dilepas dari pukat nelayan. Biasanya nelayan melepas pukat saat malam hari, dan mengangkatnya sat subuh,” ucapnya.

Saat hendak diangkat ke perahu, kata Damianus, nelayan kaget kalau menemukan di dalam jaringnya terdapat penyu atau ikan yang dilindungi. Nelayan sudah sadar, sehingga bila tidak bisa melepaskan sendiri, akan membawa jaringnya ke pesisir pantai.

“Biasanya, ikan yang dilindungi dan penyu sering tersangkut di pukat hanyut dan sulit dilepaskan sendiri kalau ukurannya sangat besar. Maka, nelayan membawanya ke pesisir dan memberitahukan kepada kami, sehingga bisa bersama melepaskanya,” ungkapnya.

flotimikannelayanNTTpenyu
Comments (0)
Add Comment