Pemerintah Lindungi Anak dari Pandemi Covid-19

Editor: Koko Triarko

JAKARTA – Di balik jumlah total pasien Covid-19 sebanyak 95.418 per 24 Juli 2020, terdapat anak-anak yang turut terdampak. Baik menjadi salah satu pasien terkonfirmasi, meninggal dunia, bahkan berada di situasi sulit di saat orang tua mereka menjadi salah satu pasien terkonfirmasi positif. Masa pandemi ini pun mempengaruhi perkembangan psikologis anak.

Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat, menjelaskan terdapat berbagai dampak yang ditimbulkan akibat Covid-19 bagi anak-anak. Di antaranya keterpisahan keluarga, berkurangnya akses terhadap dukungan sosial, stres orang tua, kekerasan, perlakuan salah, stres psikologis terhadap anak, penelantaran, eksploitasi, dan stigma pada etnis tertentu.

Dalam melakukan tindak pencegahan dan penanganan anak yang terdampak akibat Covid-19, Harry menjelaskan, bahwa Kemensos telah melakukan upaya bagi anak-anak yang terpapar. Upaya langsung kepada anak-anak yang terpapar dan ini dilakukan oleh para pekerja sosial di seluruh Indonesia, berdasarkan laporan pengaduan maupun juga rujukan.

“Jadi ada balai-balai besar anak, panti sosial anak, lembaga kesehatan sosial anak yang kita kerahkan untuk mengantisipasi kalau ada risiko terburuk pada anak,” kata Direktur Jenderal Rehabilitasi Sosial Kemensos, Harry Hikmat, saat dialog di Gedung BNPB, Jakarta, Sabtu (25/7/2020).

Berdasarkan data, saat ini terdapat 346 anak positif Covid-19 yang terpapar dari 25 provinsi di Indonesia, dan telah ditangani secara langsung oleh para pekerja sosial.

Dalam proses penanganan anak yang terpapar, sebutnya, pekerja sosial tidak hanya melakukan pendekatan pada anak, para pekerja sosial pun akif melakukan pendekatan kepada orang tua dan keluarga dari anak tersebut melalui online.

“Ini yang perlu satu pemahaman, di mana anak itu harus mengerti terhadap situasi yang sulit, tapi sisi lain orang tua pun juga harus bisa mengerti, bahwa situasi seperti itu tidak bisa terlalu dekat dengan anak. Untuk itu, kita pun melakukan pendekatan tidak hanya pada anak, tetapi juga kepada orang tua dan keluarganya melalui media online,” ujarnya.

Harry menambahkan, bahwa layanan online dapat diakses melalui hotline TePSA 1500771. Telepon Sahabat Anak yang sering dipakai untuk rujukan, pengaduan, itu ditindaklanjuti oleh pekerja sosial dan upaya tersebut dilakukan melalui online. TePSA itu (nomor hotline) 1500771.

Lebih jauh Harry mengatakan, Kemensos bekerja sama dengan Satgas Covid-19 BNPB, Unicef, dan lembaga internasional lain. Seperti Yayasan Tunas Cilik, telah mengeluarkan panduan bagi para pekerja sosial untuk menunjang jalannya pendampingan.

“Kami sudah mengeluarkan panduan untuk pekerja sosial, bagaimana menjada kesehatan dirinya sendiri sebagai pekerja sosial, dan bagaimana menangani kasus anak-anak yang terpapar Covid-19 berikut juga penanganan kepada keluarganya,” sebutnya.

Pada kesempatan yang sama, Koordinator Harian PKSAI Tulungagung, Sunarto Agung Laksono menjelaskan peran Pusat Kesejahteraan Sosial Anak Integratif (PKSAI) dalam proses perlindungan anak di masa pandemi Covid-19 sangat penting.

“Kita mengintegrasikan semua jenis layanan anak yang dimiliki oleh pemerintah, perguruan tinggi, lembaga swadaya masyarakat, kita rangkul di situ,” sebutnya.

Tidak hanya itu, kata Sunarto, PKSAI juga melakukan berbagai upaya untuk menangani anak yang terkonfirmasi positif Covid-19, dengan melakukan advokasi dan memberikan recreational kit, agar tetap bisa mengembangkan diri saat karantina.

“Kita melakukan advokasi bersama dengan tim media untuk memberikan layanan yang lebih intensif. Utamanya terhadap psikologi anak, agar mereka tidak trauma,” sebutnya.

BNPBCOVID-19DKIJakartaSosial
Comments (0)
Add Comment