POSSI Dukung Keterlibatan Penyelam Saintifik dalam Survei Geologi

Editor: Makmun Hidayat

JAKARTA — Kebutuhan eksplorasi bawah air, banyak disampaikan oleh para peneliti keilmuan. Salah satunya, dari bidang keilmuan geologi. Untuk menyikapinya, Persatuan Olahraga Selam Seluruh Indonesia (POSSI) menyatakan komitmennya dalam menciptakan sertifikasi untuk scientific diver atau penyelam saintifik.

Ketua Dewan Instruktur PB POSSI Hanny Surya Tambuwun saat Zoom Webinar POSSI, Kamis (9/7/2020). -Foto Ranny Supusepa

Ketua Dewan Instruktur PB POSSI Hanny Surya Tambuwun menyatakan kebutuhan adanya pengembangan spesialisasi bidang selam saintifik memang banyak disampaikan oleh para peneliti berbagai bidang keilmuan.

“Dari beberapa kegiatan edukasi yang diselenggarakan POSSI, para pembicara dan para peserta mengungkapkan keinginan untuk adanya pengembangan spesialisasi bidang selam saintifik,” kata Hanny saat dihubungi, Kamis (9/7/2020).

Ia menyatakan berdasarkan apa yang disampaikan tersebut, POSSI merencanakan untuk melakukan pelatihan dan menerbitkan sertifikasi dalam bidang selam saintifik ini.

“Masukan dari para pembicara, yang merupakan para ahli, menunjukkan bahwa mereka punya semangat yang sama dengan POSSI untuk mengembangkan kursus spesialisasi yang tentunya bersertifikat,” ujarnya lebih lanjut.

Terkait potensi untuk bekerja sama dengan pihak lembaga yang berkaitan dengan sertifikasi ini, Hanny menyatakan akan menyesuaikan dengan ketentuan dan peraturan pemerintah.

“POSSI punya tanggung jawab dalam mengambil peran untuk mengembangkan penyelaman dalam bidang pendidikan dan ilmu pengetahuan,” tandasnya.

Peneliti Pusat Survei Geologi, Badan Geologi KESDM Rina Zuraida saat Zoom Webinar POSSI, Kamis (9/7/2020). -Foto Ranny Supusepa

Peneliti Pusat Survei Geologi, Badan Geologi KESDM, Rina Zuraida menyampaikan bahwa penelitian geologi di bawah air memang membutuhkan disiplin ilmu lainnya, termasuk juga ilmu penyelaman, untuk dapat melakukan pengambilan sampel maupun penelitian secara baik.

“Dalam survei geologi, itu ada tiga tahapan, yaitu pengamatan, pengukuran dan pengambilan sampel. Ada yang menggunakan alat, ada juga yang langsung diambil dengan melakukan penyelaman,” ujarnya dalam zoom webinar yang diselenggarakan oleh POSSI.

Untuk wilayah survei kurang dari kedalaman 40 meter, lanjutnya, penggunaan penyelam memang dibutuhkan untuk mengambil sampel sedimen maupun koral yang ada di dasar lautan.

“Pengamatan ini memiliki fungsi untuk memberikan informasi sejarah geologi suatu perairan maupun kondisi laut dan iklim di masa lalu,” ujar Rina.

Beberapa kegiatan geologi bawah air, misalnya penelitian morfologi Notch , penelitian foraminifera untuk kepentingan paleoseanografi, penelitian koral untuk mengetahui kadar salinitas atau penelitian Homotrema rubrum untuk mengetahui arah arus dan pergerakan sedimen.

“Penyelaman tidak hanya dilakukan di laut. Tapi juga di danau, yang biasanya kalau di Indonesia merupakan danau tektonik dan vulkanik. Saya tidak menyarankan untuk penyelaman di danau vulkanik karena kandungan bahan kimianya,” ucapnya.

Salah satu contoh penyelaman di danau, lanjutnya, adalah penyelaman argeologi di Danau Matano yang memiliki kedalaman 590 meter.

“Baik di danau maupun di laut, survei geologi memang membutuhkan penyelam yang mengerti kaidah penyelaman dan juga ilmu geologi,” tandasnya.

Peneliti Geologi Laut Pusriskel Rainer Arief Troa saat Zoom Webinar POSSI, Kamis (9/7/2020). -Foto Ranny Supusepa

Sementara, dalam kesempatan yang sama, Peneliti Geologi Laut Pusriskel, Rainer Arief Troa menyatakan penyelam dibutuhkan bukan hanya untuk meneliti apa yang sudah terjadi tapi juga untuk membantu penelitian tentang sumber daya non hayati laut.

“Sumber daya non hayati laut (SDNHL) atau georesources memiliki cakupan luas yang tersusun dari material abiotik di bawah laut, perairan dangkal, daratan pasang surut pantai hingga sumber daya yang terkandung dalam kerak bumi atau perlapisan sedimen dasar laut,” kata Rainer.

Pembentukannya, lanjut Rainer, terjadi secara alamiah melalui proses geologi dalam rentang waktu ribuan hingga jutaan tahun lampau yang akhirnya terakumulasi menjadi sumber daya geologi.

“Kebutuhan akan penyelam adalah untuk mengambil sampel batu dan sedimen atau melakukan penggalian untuk mengkaji pengendapan,” ujarnya.

Dengan melakukan penelitian ini, maka akan terbuka potensi dalam pengembangan sumber daya yang ada untuk mensubstitusi sumber daya yang saat ini sedang dipergunakan.

“Contohnya, misal untuk penelitian potensi hidrotermal. Atau untuk melakukan penelitian biota dasar laut, seperti yang dilakukan oleh Amerika Serikat, untuk pengembangan bioteknologi,” paparnya.

Keberadaan penyelam saintifik ini, menurut Rainer, diharapkan bisa menyokong riset bawah air. “Tentunya dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak yang berkompetensi di bidangnya, sehingga riset bawah air ini bisa menghasilkan multiplier effect,” pungkasnya.

Penyelam SaintifikPOSSISurvei Geologi
Comments (0)
Add Comment