Satu Banjar di Desa Kaliakah, Jembrana Diisolasi

JEMBRANA – Gugus Tugas Percepatan Pencegahan (GTPP) COVID-19 Kabupaten Jembrana, Bali, bersama warga Desa Kaliakah bersepakat, mengisolasi satu banjar di desa setempat.

Isolasi dilakukan, setelah ditemukan beberapa transmisi lokal di banjar tersebut. “Banjar Munduk, Desa Kaliakah, Kecamatan Negara, akan dikarantina mulai Jumat (3/7/2020). Karantina atau isolasi ini merupakan kesepakatan kami dengan warga,” kata Juru Bicara GTPP COVID-19 Jembrana, dr I Gusti Agung Putu Arisantha, di Negara, Kabupaten Jembrana, Kamis (2/7/2020).

Opsi isolasi banjar ini merupakan opsi yang dipilih, setelah dilakukan dua kali pertemuan dan sosialisasi, dengan menghadirkan warga serta perangkat desa setempat. Isolasi pada hari pertama akan dilakukan tes cepat massal terhadap warga banjar tersebut. Tes cepat akan dilakukan dua kali.

Selama isolasi 14 hari, warga banjar tersebut akan berdiam diri di rumah. Termasuk melarang orang keluar dan masuk banjar. “Jika saat rapid test ditemukan yang reaktif, segera akan kami lakukan swab test serta diambil tindakan lebih lanjut,” jelasnya.

Keputusan karantina, yang juga disepakati warga, dilakukan setelah ditemukan tiga kasus baru di banjar tersebut. Kasus yang berasal dari orang yang pernah kontak dekat dengan pasien COVID-19 asal banjar itu. Dalam 24 jam terakhir, penambahan pasien COVID-19 di Kabupaten Jembrana mencetak rekor, dengan ditemukan enam pasien baru. Yang selain ditemukan di Desa Kaliakah, juga ditemukan di Desa Yehembang Kauh, Desa Yehsumbul dan Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan Mendoyo. “Tiga kasus di luar Desa Kaliakah itu merupakan penelusuran yang dilakukan petugas Puskesmas maupun RSU Negara. Kami masih melakukan pelacakan lebih lanjut, untuk mencegah penularan,” ujar Arisantha.

Dengan bertambahnya enam pasien tersebut, secara kumulatif, jumlah warga Kabupaten Jembrana yang tertular COVID-19 menjadi 41 orang. Khusus untuk Banjar Munduk, Arisantha mengatakan, pihaknya menyiapkan 2.000 alat tes cepat, dengan melibatkan petugas dari sejumlah Puskesmas, karena warga yang harus menjalani tes mencapai 990 orang.

Bupati Jembrana, I Putu Artha selaku Ketua Gugus Tugas Percepatan Pencegahan COVID-19 mengatakan, opsi karantina atau isolasi banjar merupakan pilihan terbaik, untuk menyelamatkan warga dari penularan. “Virus COVID-19 itu penularannya sangat cepat, sehingga karantina banjar ini tidak hanya menyelamatkan warga banjar bersangkutan, tapi juga masyarakat Kabupaten Jembrana,” tandasnya.

Kepada petugas yang terlibat dalam isolasi tersebut diperintakannya, untuk mendistribusikan bantuan sembilan kebutuhan pokok ke rumah-rumah warga. “Kebutuhan pokok warga akan dipenuhi oleh gugus tugas. Petugas harus mengantar hingga ke rumah warga selama masa karantina,” tambahnya.

Kepala Desa atau Perbekel Kaliakah, I Made Bagiarta mengatakan, pihaknya siap menyosialisasikan kebijakan isolasi dan karantina kepada masyarakat. Sosialisasi akan dilakukan terkait mekanisme karantina, termasuk pengawasan agar tidak ada warga yang keluar-masuk banjar tersebut. “Akses jalan ke banjar tidak akan ditutup, tapi akan diawasi ketat. Agar berjalan baik, perlu kerja sama semua pihak dan institusi, apalagi karantina ini merupakan hal yang baru bagi warga,” tandasnya.

Kluster transmisi lokal di desa tersebut berasal dari seorang perempuan yang pulang dari Denpasar ke Desa Berangbang. Perempuan tersebut juga mengunjungi kerabatnya di Banjar Munduk, Desa Kaliakah. (Ant)

Balibanjar mundukcoronaCOVID-19desa kaliakahisolasijembranakarantinatransmisi lokal
Comments (0)
Add Comment