Verifikasi Berkas PPDB Jateng, Pemalsu Data Terancam Dicoret

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Proses verifikasi fisik dokumen Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) jenjang SMAN/SMKN Jateng 2020, masih berlangsung hingga 8 Juli 2020 mendatang.  Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jateng, Jumeri memastikan jika ditemukan data yang tidak sesuai atau aspal, keputusan pencoretan calon siswa didik menjadi sanksi terberat.

Kepala Sekolah SMAN 1 Semarang, Endang Suyatmi Listyaningsih, saat ditemui di Semarang, Sabtu (4/7/2020). Foto Arixc Ardana

“Sampai saat ini, masih belum ada laporan secara menyeluruh, mengenai jumlah temuan pelanggaran atau ketidakcocokan data saat verifikasi fisik PPDB. Ini karena proses verifikasi masih berjalan, dari tanggal 1 Juli hingga 8 Juli 2020,” paparnya di Semarang, Sabtu (4/7/2020).

Meski belum bisa memastikan jumlah keseluruhan, namun pihaknya mengakui sudah mendapat informasi terkait adanya pelanggaran.

“Sudah ada laporan tentang Surat Keterangan Domisili (SKD) yang tidak sesuai, demikian juga dengan sertifikat dan piagam penghargaan yang terindikasi aspal. Ini masih kita kumpulkan. Namun sejauh ini, secara umum jumlahnya kita perkirakan tidak banyak, karena sebelumnya sudah kita peringatkan terkait sanksi yang akan diterima jika melakukan pemalsuan,” lanjutnya.

Ancaman sanksi tegas yang akan diberikan kepada pemalsu SKD dalam proses PPDB Jateng 2020, berimbas pada ditariknya ribuan berkas pendaftaran di jenjang SMAN. Jelang penutupan, ada sebanyak 1.007 calon peserta didik yang mencabut berkas SKD, dan mengulang kembali pendaftaran dari awal dengan data yang benar.

Terkait pemberian sanksi, Jumeri menjelaskan akan diputuskan melalui sidang.

“Temuan dalam verifikasi ini, akan disidangkan. Hasilnya nanti bersifat mengikat dan final, termasuk jika diputuskan adanya pencoretan calon peserta didik. Maka mereka harus bisa menerima. Nantinya dalam sidang, kita dengarkan dari masing-masing pihak, supaya lebih adil. Proses sidang ini akan dilakukan nanti di akhir verifikasi,” tegasnya.

Sementara untuk verifikasi di SMKN, sejuah ini tidak banyak persoalan sebab tidak ada jalur zonasi, sehingga tidak melakukan verifikasi terkait KK atau SKD. Verifikasi berkas hanya dilakukan untuk jalur prestasi dan afirmasi.

Jumeri menambahkan, selama proses verifikasi fisik dokumen secara tatap muka, pihak sekolah juga menerapkan protokol kesehatan. Mulai menjaga jarak, penggunaan masker hingga penjadwalan peserta didik, sehingga tidak terjadi kerumunan dalam antrean.

Terpisah, Kepala Sekolah SMAN 5 Semarang, Siswanto menuturkan dalam verifikasi fisik dokumen dalam PPDB SMAN, pihaknya membaginya sesuai jalur penerimaan, untuk memudahkan pelaksanaan verifikasi.

“Penerimaan PPDB tahun ini melalui sejumlah jalur, mulai dari zonasi, prestasi, afirmasi dan luar kota kota atau perpindahan oang tua. Untuk memudahkan proses verifikasi, kita kelompokan dan dibatasi per sesi agar tidak terjadi penumpukan,” terangnya.

Pada tahun ini, pihaknya menerima sebanyak 374 siswa, dengan rincian dari jalur zonasi 188, prestasi 112, afirmasi 56, perpindahan orangtua 18 siswa.

“Untuk jalur zonasi, kita lakukan pemeriksaan kartu keluarga (KK), SKD jika menggunakan. Kemudian untuk verifikasi jalur prestasi dilakukan pencocokan dokumen atau piagam prestasi yang diraih. Sementara jalur afirmasi, kita cocokan dengan surat keterangan dari Dinkes. Sejauh ini, kita belum menemukan adanya ketidakcocokan data,” tambahnya.

Hal senada juga disampikan Kepala Sekolah SMAN 1 Semarang, Endang Suyatmi Listyaningsih. Dipaparkan, pihaknya sudah melakukan antisipasi sejak awal pendaftaran, terkait kemungkinan adanya pemalsuan data.

“Pada proses pendaftaran PPDB, kita bahkan lakukan survei kunjungan langsung ke rumah calon peserta didik, yang kita nilai berpotensi bermasalah terkait persyaratan KK atau SKD. Waktu itu ada 27 pendaftar yang dilaporkan oleh masyarakat, lalu kita lakukan pengecekan. Mereka yang bermasalah sudah hilang dengan sendirinya. Jadi sejak awal, sudah kita antisipasi,” terangnya.

Sementara terkait pencegahan covid-19, pihaknya menerapkan jadwal bagi masing-masing calon peserta didik. “Setiap hari, kita lakukan verifikasi fisik kepada 90 calon peserta didik, yang terbagi dalam tiga shift, hingga pukul 14.00 WIB,” paparnya.

Mereka yang berhalangan datang atau tidak lengkap syarat verifikasi, nantinya akan dijadwalkan ulan agar tidak terjadi penumpukan antrean. Pada tahun ini, SMAN 1 Semarang menerima sebanyak 384 peserta didik baru, dengan rincian zonasi 192, prestasi 115, afirmasi 58 dan perpindahan orangtua 19 orang.

JatengPPDBsemarang
Comments (0)
Add Comment