Ada Siswa Positif, Tulungagung Tetap Jalankan Pembelajaran Luring

TULUNGAGUNG – Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur memastikan, proses pembelajaran siswa dengan metode luring (luar jaringan) tetap akan diberlakukan, meski ada temuan kasus konfirmasi COVID-19 pada salah satu siswa di daerah tersebut.

“(Pembelajaran) luring tetap berjalan dengan menerapkan protokol kesehatan secara ketat,” kata Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Haryo Dewanto, Kamis (13/8/2020).

Menurut dia, pilihan tersebut tetap diambil karena metode pembelajaran secara daring tidak bisa berjalan optimal di Tulungagung. Selain faktor sinyal internet, yang di beberapa titik wilayah tidak lancar atau bahkan masuk area blank spot, tidak semua siswa dan wali murid memiliki sarana ponsel pintar berikut paket data yang menyedot belanja besar. “Kalau tidak (luring) cara pembelajarannya bagaimana, jika di area-area sulit sinyal,” katanya.

Di Tulungagung Haryo menyebut, sekira 40 persen lembaga pendidikan baik sekolah dasar dan sekolah menengah pertama melakukan pembelajaran luring. Penyebabnya karena sulitnya jangkauan sinyal dari provider telekomunikasi seluler.

Lokasi pembelajaran luring itu berlangsung terutama di daerah pegunungan, atau di sisi selatan Kabupaten Tulungagung. Dinas Pendidikan juga mengandalkan kreativitas lembaga sekolah, kaitannya dengan metode pembelajaran di daerah yang sulit sinyal.

Metode pembelajaran luring sempat berjalan baik. Siswa dibuat berkelompok, lalu guru mendatangi kelompok-kelompok siswa yang terdiri atas 5 sampai 10 siswa di salah satu rumah wali murid. Proses pembelajaran diberikan secara bergilir dengan kelompok siswa lain.

Namun kemudian kendala muncul. Seorang siswa peserta pembelajaran luring di wilayah Kecamatan pagerwojo terkonfirmasi positif corona. Kabid Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit, Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, Didik Eka menceritakan, siswa kelas IV asal Kecamatan Pagerwojo tersebut diduga tertular dari orang tuanya.

Mulanya orang tua siswa berinisial ERZ tersebut menjalani tes cepat COVID-19 di Ponorogo, untuk keperluan bekerja di luar negeri dengan hasil reaktif. Namun, saat dilakukan tes usap PCR hasilnya negatif. Dinas Kesehatan lalu melakukan penelusuran ke anggota keluarga dengan hasil anaknya terkonfirmasi corona.

Penelusuran pun dilanjutkan pada warga, yang memiliki kontak erat dengan pasien sembilan tahun tersebut. Dinas Kesehatan kemudian melakukan tes usap terhadap lima teman dan dua guru, yang melakukan kontak saat proses pendidikan luring berlangsung, dan hasilnya semua negatif. (Ant)

belajar luar jaringancocid-19coronaJatimPendidikantatap mukaTulungagung
Comments (0)
Add Comment