Arek Malang Filmkan Sejarah Singasari

Editor: Koko Triarko

MALANG – Sebuah film roman sejarah berjudul ‘Putri Nareswari Kembang Panawijen’, karya arek-arek Malang segera hadir untuk mengingatkan kembali generasi muda tentang sejarah berdirinya kerajaan Singasari. 

Penulis naskah sekaligus sutradara, Suhardi, menjelaskan film ‘Putri Nareswari Kembang Panawijen’ menceritakan sejarah berdirinya kerajaan Singasari yang diawali dari sebuah kehidupan di desa Polowijen, yang dulu bernama Panawijen.

Dari desa Palowijen inilah, dulu hidup Mpu Purwa yang mempunyai anak bernama Ken Dedes.

“Ken Dedes inilah yang kemudian menjadi kunci sejarah berdirinya kerajaan Singasari,” jelasnya, dalam acara Memetri mengawali produksi film di Kampung Dolanan Polowijen, Kamis (13/8/2020).

Dikatakan Suhardi, Ken Dedes juga dijuluki sebagai putri Nareswari, di bagian kewanitaannya memiliki keistimewaan mampu mengeluarkan cahaya. Inilah yang kemudian dimaknai putri Ken Dedes ini adalah seorang Nareswari, yang kelak akan melahirkan dari rahimnya keturunan raja-raja Jawa penguasa tanah Jawa.

Lebih lanjut disampaikan Suhardi, melalui film tersebut ia ingin mengingatkan kembali kepada generasi muda, bahwa dari Malang inilah merupakan cikal bakalnya Negara Kesatuan Republik Indonesia. Karena dari sekian banyak raja, hanya Prabu Kertanegara, Raja Singhasari, yang memiliki cita-cita ingin menyatukan semua kerajaaan-kerajaan yang ada di nusantara di bawah panji-panji Singhasari.

“Inilah yang kemudian kami anggap oleh tokoh seniman dan sejarawan sebagai awal cita-cita negara kesatuan republik Indonesia,” sebutnya.

Menurut Suhardi, pada tahap awal film Putri Nareswari Kembang Panawijen akan dibuat sebanyak 15 episode, dengan durasi 45 menit setiap masing-masing episode.

“Pada episode-episode tersebut, akan diceritakan tentang masa kecil Ken Dedes, masa kecil Ken Arok, masa kecil Ken Umang serta masa berkuasanya Tunggulametung di Tumapel,” ungkapnya.

Terkait lokasi syuting, dilakukan di beberapa tempat, di Gunung Kawi, lembah Tumpang, museum Panji, Coban Kali Jahe, dan yang paling lebih dominan dilakukan di kampung dolanan Polowijen, karena bisa mewakili kondisi kampung tempo dulu.

“Untuk pemerannya 95 persen berasal dari Malang, sedangkan 5 persennya lagi berasal dari luar Malang,” terangnya.

Menurutnya, film tersebut merupakan salah satu bentuk tanggung jawab moral kepada generasi muda.

“Kalau generasi muda tidak tahu sejarah ini, kita pasti yang disalahkan. Jadi, ini adalah salah satu bentuk tanggung jawab moral kita,” tandasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Malang, Sofyan Edi Jarwoko, yang turut hadir dalam acara tersebut, mengaku sangat mengapresiasi pembuatan film Putri Nareswari Kembang Panawijen, yang diinisiasi oleh masyarakat sendiri.

“Jangan pernah sekali-sekali meninggalkan atau melupakan sejarah, setidaknya inilah yang ingin disampaikan melalui film Putri Nareswari Kembang Panawijen,” ucapnya.

Pihaknya sangat mengapresiasi, dan berharap Malang bisa lebih dikenal dan terangkat, baik dari sisi budaya, sejarah maupun ekonomi.

filmJatimKendedesmalangSejarahSingasari
Comments (0)
Add Comment