Melirik Peluang Bisnis Pertanian Hidroponik di Bekasi

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

BEKASI – Tren budi daya tanaman hidroponik sedang menjadi pilihan di Kota Bekasi, Jawa Barat. Selain sebagai ketahanan pangan juga menjadi peluang berbisnis di bidang pertanian. Peluang bisnisnya diibaratkan masih seperti lautan luas.

Antara penawaran dan permintaan lebih banyak permintaan. Sistem pertanian hidroponik bisa menjadi bisnis baru di perkotaan, cukup menggiurkan bagi para pelaku pengusaha pemula yang berawal dari sekedar hobi.

“Saya mengistilahkan peluang bisnis berbagai produk sayuran melalui sistem hidroponik masih berupa lautan yang luas, kedalamannya tak terduga,” ungkap Sumartono, pelaku pertanian sistem hidroponik juga sebagai pemilik Maura Farm kepada Cendana News, Selasa (4/8/2020).

Dikatakan bahwa produk hidroponik berupa sayuran, buah dan lainnya memiliki tiga macam jenis market atau diistilahkan teknis pemasaran. Pertama jelas Sumartono, adalah konsumen langsung atau pelanggan langsung.

Menurutnya, konsumen tersebut berhadapan langsung dan biasanya membeli untuk kebutuhan sehari-hari dan akan menjadi pelanggan tetap. Kedua adalah reseller atau teman pedagang yang menjual hasil produk hirdoponik untuk dijual kembali.

Reseller ini, tentunya akan mendapat special price atau harga khusus agar bisa menjual dengan margin yang cukup menarik. Ketiga adalah menjual ke buyer atau pemasok besar untuk supermarket, di wilayah Jabodetabek,” tegas Sumartono.

Lebih lanjut dikatakan bahwa peluang produk hidroponik untuk mengisi pasar besar sangat berpeluang. Meskipun sudah banyak pemain sebagai buyer, tetapi semuanya masih memiliki ketergantungan kepada petani.

Dia mengistilahkan antara demand dengan supply masih banyak demand. Namun demikian Sumartono menjelaskan bahwa kondisi tersebut adalah saat normal. Karena saat ini imbuhnya, buyer masih tiarap, dan produksi hidroponik masih menyasar pada reseller untuk memenuhi kebutuhan kompleks atau lainnya.

Bagi pemula yang ingin mencoba bisnis baru melalui pertanian hidroponik biasanya beranjak dari skala hobi. Maka sebaiknya menanamlah yang paling mudah untuk produk jenis sayuran yang oriental. Misalnya aneka jenis sayuran bayam, kangkung, pokcay. Jenis tersebut sangat mudah diterima dan dijual.

“Banyak yang bertanya bisnis pertanian apakah harus hidroponik, sebenarnya bertani merupakan suatu fashion masing-masing keluarga. Tapi ujungnya adalah ketahanan pangan buat keluarga bersangkutan, ketahanan pangan buat tetangga dan akhirnya bisa dijual,” paparnya.

Sumartono menyarankan kepada pemula setelah skala hobi kemudian bisa ke jenis produk high market atau sayuran untuk pelengkap makanan olahan western seperti kobis biasa dipakai untuk salad, colorosa dan lainnya. Tanaman tersebut jelasnya, lebih cocok di wilayah dataran tinggi.

Sekarang yang sedang tren adalah menanam dan menjual sayuran jenis kale. Kale ini sudah cukup bagus, edukasinya mulai berkembang. Sehingga tak sedikit ibu rumah tangga mengenal kale jenis sayuran sawian yang bisa sebagai antibodi.

Pelanggan kale di Maura Farm, imbuhnya, kebanyakan mereka yang menyandang  kanker, komunitas kanker banyak juga mengonsumsi kale.

“Pemula bisa memulai dari kangkung karena usia 18-25 hari, sudah panen. Begitu juga jenis lainnya aneka jenis bayam atau bisa juga budidaya kale yang agak berkelas usia 45-75 hari bisa dipanen,” tukasnya.

Terakhir dia juga mengatakan bahwa hidroponik juga memiliki kendala macam-macam hama seperti jamur, ulat dan kutu. Artinya perawatannya memerlukan kerutinan dan juga memerlukan pemberian nutrisi rutin.

Agus Suryono, ahli nutrisi Maura Farm, menambahkan bahwa saat ini sedang menawarkan kerjasama dengan pemilik lahan yang ingin dikembangkan menjadi budidaya hidroponik. Kerjasama tersebut bisa melalui bagi hasil atau sistem beli lepas.

“Bagi hasil dimaksud, pemilik lahan memiliki modal untuk instalasi. Maura Farm hanya merawat sampai panen melalui sistem bagi hasil 30-70. Soal sistem ini juga bisa dibahas lebih lanjut,” pungkasnya.

bayamhidroponikJabarpanen
Comments (0)
Add Comment