Pendidikan Daring Tuntut Orang Tua ikut Belajar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

PADANG – Berbagai cerita datang dari kondisi belajar daring dalam masa-masa Pandemi Covid-19. Orangtua dituntut jadi multifungsi selama di rumah, termasuk jadi guru bagi anak-anaknya.

Di Kota Padang, Sumatera Barat, tepatnya di Air Pacah, ada dua orang anak yang masih menempuh pendidikan di sekolah dasar (SD). Fauzan merupakan si bungsu masih di kelas I SD dan kakaknya Fajar kelas III SD.

Mereka setiap pagi harus mengikuti belajar secara daring, dengan memanfaatkan satu unit smartphone yang dipergunakan secara bergantian. Mereka tidak hanya berdua saja, tapi ada sosok seorang ibu yang membantu mereka untuk belajar daring di rumah.

Namanya, Emi, merupakan ibu dari kedua anak itu. Saat ini Emi berprofesi sebagai ibu rumah tangga. Artinya Emi memiliki waktu yang banyak untuk membantu anak-anaknya dalam mengikuti belajar daring di rumah. Tapi, ada kendala yang dihadapi oleh Emi sendiri, selama membantu anak-anaknya belajar daring.

“Pendidikan saya hanya sampai kelas IV SD dan itu pun tidak ditamatkan, karena pas ujian akhir saya memilih tidak ikut. Sekarang saya harus menjadi guru dari anak-anak saya yang keduanya tengah belajar di jenjang pendidikan SD. Saya benar-benar bingung, apalagi menggunakan internet,” ujar dia, Kamis (6/8/2020).

Ia mengaku terkadang bingung untuk membantu anak-anaknya dalam menjawab berbagai tugas sekolah anak-anaknya. Bingungnya itu, materi tugas sekolah yang dikerjakan oleh anak-anaknya itu, bisa dikatakan jauh berbeda sewaktu ia masih sekolah di SD pada tahun 1990-an dulu.

Bahkan, Emi beranggapan, materi pelajaran anak-anak sekarang itu, jauh lebih sulit ketimbang sewaktu masih sekolah dulu. Apalagi pendidikan yang ditempuh juga tak selesai 6 tahun lamanya, serta ditambah harus diiringi dengan internet, membuat Emi merasa kurang mampu untuk menjadi guru bagi anak-anaknya.

“Awal-awalnya saya sempat kesal, karena anak-anak saya pun merasa kurang puas terhadap hal yang saya bantu. Akhirnya, saya minta tolong ke tetangga, alhamdulillah dibantu, dan anak-anak saya bisa belajar dengan baik,” katanya.

Menjalani situasi itu, Emi pun merasa, kebijakan pemerintah untuk melakukan belajar di rumah secara daring, tidak bisa disama ratakan. Seperti halnya dirinya, yang terkendala dengan pengetahuan soal penggunaan internet, dan ada daerah lain yang bahkan harus ke hutan cari internet.

Meski dari persoalan yang dihadapinya itu telah ada solusi yakni meminta bantuan kepada tetangga, ibu dua orang ini, tetap saja merasa enggan untuk setiap pagi menyuruh anak-anaknya pergi ke rumah tetangga. Sebagai orangtua, harusnya dia bertanggung jawab terhadap pendidikan anak-anaknya itu.

“Kalau selamanya saya harus meminta tolong kepada tetangga, segan pula saya. Kan saya yang punya anak, kenapa orang yang sibuk. Tapi, beberapa hari ini, saya mengajak adik saya dari kampung untuk datang ke Padang, sebagai pengganti dari tetangga saya itu. Sehingga belajarnya di rumah saja,” ujar dia.

Kini, dengan telah adanya bantuan dari sang adik yang kebetulan telah menamatkan pendidikan dari SMA, Emi merasa cukup lega. Setidaknya anak-anak tamat SMA memiliki pendidikan yang lebih tinggi, serta dapat memahami seputar internet lebih baik dari dirinya.

“Sekarang adik saya yang membantu kedua anak saya itu untuk belajar setiap paginya. Kalau soal semangat, kedua anak saya itu semangat kali belajarnya. Cuma saya saja yang tidak mampu membantu mereka,” kata Emi dengan nada tawa.

Fajar, anak pertama dari Emi, juga mengaku bahwa harus berpandai-pandai minta tolong kepada orang lain, ketika ibunya belum sanggup untuk membantu dia belajar daring sepenuhnya dari rumah.

“Kalau ibu tidak sanggup, saya pergi ke rumah tetangga. Kalau tidak belajar, nanti ibu guru marah dan nilai saya jelek,” ujar Fajar.

Menjalani masa-masa belajar dari rumah, diakui Fajar, terkadang ada rasa jenuh. Sebab mengingat sudah lama tidak belajar di sekolah, berkumpul dengan teman-teman di sekolah, dan lebih asyik bermain bersama teman-teman di sekolah.

“Saya rindu masuk sekolah, pakai seragam sekolah. Sekarang belajarnya di rumah saja, pakai android, habis itu main-main di rumah,” sebutnya.

Sebagai informasi, di Kota Padang, saat ini belum melakukan proses pembelajaran secara tatap muka, mengingat situasi Covid-19 masih belum bisa disebut aman.

Setidaknya per hari itu selalu ada penambahan jumlah kasus Covid-19. Belum diketahui, kapan sekolah tatap muka akan dimulai kembali.

AnakinternetrumahSumbar
Comments (0)
Add Comment