Pengunjung Pantai di Lamsel Masih Buang Sampah Sembarangan

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Sampah plastik yang terdampar di pantai timur Lampung Selatan, hingga kini masih menjadi pemandangan lumrah. Berbagai jenis sampah plastik memenuhi bebatuan dan pasir di pantai Onaria, salah satu destinasi wisata bahari di Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang.

Wayan Sutiyo, warga setempat, menyebut pengabaian pada kebersihan lingkungan menjadi penyebab semua itu masih terjadi. Sampah didominasi plastik kemasan makanan, minuman yang dibawa pengunjung. Meski disediakan sejumlah kotak sampah dengan karung dan keranjang kayu, tingkat kesadaran masyarakat masih rendah.

Sejumlah pengunjung yang membuang sampah kerap diingatkan oleh pengelola. Namun alasan sudah membayar uang kebersihan, menjadi pembenaran membuang sampah sembarangan.

Made Sutiyo, warga Desa Tridharmayoga, Kecamatan Ketapang, Lampung Selatan, memperlihatkan kondisi pantai Onaria yang kerap kotor imbas pengunjung abai kebersihan pantai, Rabu (12/8/2020). -Foto: Henk Widi

Selain sampah yang dibawa pengunjung, volume sampah meningkat saat musim angin Selatan dan Timur. Keberadaan sungai Way Sekampung, sungai Gajah Mati dan sungai Sumur Induk menjadi penyumbang sampah.

Saat sungai disertai angin, berimbas material sampah terdampar di pantai. Upaya pembersihan tetap dilakukan oleh warga, sekaligus mencari barang bernilai jual.

“Pengabaian kebersihan kerap dilakukan oleh pengunjung, warga di tepi pantai serta aliran sungai menjadi lokasi favorit untuk membuang sampah, ketika ada banjir dan arus laut dan gelombang berbagai jenis sampah tersebut kembali terdampar ke pantai,” terang Wayan Sutiyo, Rabu (12/8/2020).

Berbagai jenis sampah yang dibuang ke sungai dan terdampar ke pantai, dominan sulit diurai. Sebagian sampah berupa botol yang mudah pecah, menurutnya kerap membahayakan pengunjung. Sebab, sebagian pantai yang dikunjungi wisatawan merupakan hamparan pasir. Potensi membahayakan saat terinjak menjadi risiko pengunjung sekaligus merusak pemandangan.

Pengelola pantai Onaria, menurut Wayan Sutiyo telah memasang imbauan agar sampah dibuang pada tempatnya. Namun keberadaan sejumlah pedagang dengan kemasan dominan plastik, mendorong peningkatan volume sampah. Sebagian pedagang telah membawa karung sebagai tempat sampah sementara dan membayar uang kebersihan.

“Sampah yang dibuang pada tempatnya akan memudahkan petugas, namun pengunjung yang abai berpotensi mengakibatkan sampah berserakan,” terang Wayan Sutiyo.

Subardi, salah satu nelayan di desa setempat, juga mengaku sampah berdampak tidak langsung bagi sektor perikanan. Bagi sejumlah nelayan, akibat sampah sedimentasi pada lokasi tambat perahu menyulitkan nelayan. Sampah kiriman dari luar wilayah kerap terbawa arus laut, sebagian dari wilayah Banten dan Lampung Timur. Berbagai jenis sampah tersebut kerap menghambat alur perahu.

“Sampah yang terbuang kerap berupa plastik, karung, bahkan pakaian bekas ikut mengganggu pergerakan perahu,” papar Subardi.

Kerap memancing dengan sistem rawe dasar, Subardi mengalami senar dan pancing rusak. Tersangkut sampah jenis limbah pertanian berupa pelepah pisang, kelapa dan jerami membuat pancing terganggu. Keberadaan sampah yang dibuang sembarangan di perairan pantai Timur, sekaligus merusak biota laut jenis koral dan batu karang di wilayah tersebut.

Ardi, salah satu pemuda di Desa Tridharmayoga, menyebut sampah plastik didominasi kemasan makanan. Meski ada aturan membuang sampah sembarangan, namun pengunjung memilih lebih praktis membuangnya di sejumlah tempat. Pengelola memilih mengerahkan sejumlah petugas untuk membersihkan sampah.

Keberadaan sejumlah pemulung yang mencari sampah, sebut Ardi ikut membantu pembersihan. Sebagian sampah botol minuman plastik, gelas plastik masih berpotensi untuk dijual. Meski telah dibersihkan, sampah kerap terbawa ombak. Oleh arus laut sejumlah sampah tersebut terbawa ke perairan dan terdampar ke pantai di wilayah Ketapang.

LampungLamselPantaiPlastikSampah
Comments (0)
Add Comment