Penyebaran Paham Radikalisme di Dunia Maya, Masif

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Saat ini, ruang publik di dunia maya menjadi sarana yang strategis bagi kelompok-kelompok jaringan terorisme, dalam menyebarluarkan paham radikal, khususnya bagi generasi muda.

Terutama proses diseminasi atau kegiatan penyebaran informasi yang ditujukan kepada kelompok target atau individu, agar mereka memperoleh informasi, timbul kesadaran, menerima, mengubah perilaku sasaran, dan akhirnya mereka mampu memanfaatkan informasi tersebut, khususnya tentang paham-paham radikal pada konten sosial media.

“Jumlah pengguna internet di Indonesia ini sekitar 60 persen dari total penduduk, atau 175 juta orang yang terkoneksi ke dunia maya. Dalam sehari, mereka rata-rata menggunakan internet selama 7 jam untuk berselencar digital. Termasuk mengakses berbagai informasi. Ini yang kemudian dimanfaatkan oleh kelompok jaringan terorisme,” papar Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme ( BNPT), Komjen Boy Rafli Amar, dalam webinar FGD Pendidikan Budaya Anti Radikalisme bagi Mahasiswa Undip, yang diselenggarakan Dewan Profesor Senat Akademik Undip, di Semarang, Selasa (4/8/2020).

Dijelaskan, proses radikalisme di dunia maya ini begitu kuat , dengan penetrasi kepada para generasi muda Indonesia.

“Banyak kelompok radikalisme ini yang berhasil kita deteksi dari hasil cyber vektor. Kita lakukan pemetaan atau mapping, hasilnya banyak kita temukan akun atau website yang mengandung konten radikal. Konten ini disebarluaskan dari luar negeri,” terangnya.

“Jadi, dunia maya hari ini dapat dikatakan merupakan sarana strategis dari mereka, yang ingin menyebarluaskan paham intoleran radikal dengan menyasar pengguna internet dari kalangan generasi muda,” paparnya.

Untuk itu, perlu upaya-upaya dalam pencegahan dan penanggulangan terorisme, sesuai UU No 5 tahun 2018, sebagai perubahan UU Nomor 15 Tahun 2003 tentang penanggulangan terorisme.

Termasuk dengan membangun kesiapsiagaan nasional. “Artinya kesiapsiagaan nasional ini adalah merupakan kewajiban bagi kita semuanya, lintas profesi, lintas generasi, usia, agama,  menyadari bersama, bahwa ancaman terorisme itu ada di tengah-tengah kita. Karenanya, tugas kita adalah membangun daya tangkal masyarakat, sehingga tidak ada ruang bagi kelompok radikal dan kelompok teror, untuk dapat melakukan penyebarluasan paham dan melakukan aksinya di tengah-tengah masyarakat kita,” tegasnya.

Dari sisi kampus, pencegahan paham radikalisme tersebut bisa diwujudkan dalam pendidikan bela negara. Terutama dalam penyampaian pemahaman wawasan kebangsaan hingga menumbuhkan rasa cinta kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), sebab sejauh ini paham-paham radikalisme yang berkembang, umumnya menyampaikan hal-hal yang tidak sejalan dengan ideologi negara Indonesia.

“Selain itu, juga bisa melakukan penguatan literasi dan edukasi tentang bahaya radikalisme. Ini juga menjadi bagian dalam meningkatkan daya tahan kampus, di dalam menangkal berbagai informasi yang bertentangan dengan ideologi Pancasila,” tegasnya.

Sementara, Rektor Undip, Prof. Yos Johan Utama, memaparkan, pihaknya tidak memberi ruang bagi kegiatan radikalisme di kampus.

“Radikalisme di kampus harus digebuk, jangan sampai berkembang dan merusak pemirkiran para mahasiswa hingga para dosen,” terangnya.

Dilanjutkannya, selama menjabat menjadi rektor, ia sudah melakukan deteksi pergerakan radikalisme di Undip. “Radikalisme pernah hangat di Undip beberapa waktu lalu, gerakan tersebut berupaya melawan dan mengganti aturan yang ada, namun lewat deteksi dini kami bisa mengatasinya,” katanya.

Yos juga menjelaskan, pola-pola gerakan radikalisme di kampus wajib diwaspadai. Termasuk jika ada kelompok mahasiswa yang terpinggirkan secara sosial, menjadi salah satu tahap masuknya radikalisme di kampus.

“Selain itu, adanya pihak luar yang memanfaatkan situasi dengan menggalang massa, untuk melawan tirani sosial lewat aksi, serta memberikan pemahaman agama yang keliru menjadi tahapan terjadinya gerakan radikalisme,” jelasnya.

Sejauh ini, pihaknya melakukan pengawasan yang ketat, termasuk di media sosial, terkait hal-hal yang berhubungan dengan radikalisme.

“Kita lakukan pemantauan, termasuk di medsos milik mahasiswa, dosen dan pegawai. Kita bentuk tim antiradikalisme. Tujuannya, agar paham radikalisme ini tidak bisa berkembang. Kita tekankan, bahwa radikalisme musuh bersama,” pungkasnya.

internetJatengmediamedsosRadikalismesemarangSosialUndip
Comments (0)
Add Comment