Peredaran dan Penyalahgunaan Narkotika di Jateng, Tinggi

Editor: Koko Triarko

SEMARANG – Angka peredaran gelap dan penyalahgunaan narkotika di wilayah Jawa Tengah masih tinggi. Hal tersebut karena luas wilayah provinsi tersebut yang sangat luas, dan  menjadi jalur perlintasan di Pulau Jawa.

“Narkoba masuk ke Jateng berasal dari Jakarta, Surabaya, dan daerah lain, dengan cara diambil langsung oleh kurir atau diantar oleh jaringan sindikat ke wilayah Jateng,” papar Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Jateng, Brigjen Pol Benny Gunawan, di sela gelar perkara narkoba di kantor BNNP Jateng, Jalan Madukoro Semarang, Selasa (4/8/2020).

Tingginya angka peredaran dan penyalahgunaan narkoba tersebut, juga ditandai dengan jumlah para tersangka yang meningkat. Pada semester pertama 2020, BNNP Jateng berhasil mengangkap 30 orang dari 13 kasus terkait transaksi dan peredaran gelap narkotika.

Sedangkan pada 2019, ada 51 orang dari 48 kasus juga telah ditangkap, terkait transaksi dan peredaran narkotika, beberapa kasus merupakan jaringan kurir dan pelaku antarpulau, seperti Pontianak, Kalimantan Barat dan Batam.

“Peredaran narkotika di wilayah Jateng makin masif, bahkan di tengah pandemi Covid-19. Kita juga sudah menggagalkan sejumlah kasus peredaran narkotika di berbagai daerah, dengan modus yang berbeda-beda. Terakhir, peredaran narkotika di wilayah Jepara dengan menggunakan modus penjualan brownies atau kue cokelat,” tandasnya.

Benny menjelaskan, wilayah Jepara menjadi perhatian serius jajarannya bersama aparat penegak hukum lainnya, untuk pencegahan peredaran narkotika. Karena, di Jepara saat ini menjadi pintu masuk peredaran narkoba untuk dijual ke sejumlah daerah di Jateng.

Sementara terkait pengungkapan kasus narkoba di wilayah Solo, Batang dan Banyumas, yang berlangsung pada bulan Juli 2020, petugas berhasil menyita barang bukti berupa paket narkotika jenis sabu-sabu dengan berat 172.46 gram, 50 butir pil ekstasi warna hijau, 12 handphone yang dipergunakan untuk komunikasi transaksi, 2 unit sepeda motor, dan 1 unit truk.

“Pengungkapan kasus narkotika jenis sabu-sabu dan ekstasi di Solo, Batang dan Banyumas ini merupakan operasi bersama BNNP Jateng dengan BNN masing-masing daerah, dan dengan LP Klaten dan LP Pati. Kerja sama ini bentuk sinergitas aparat penegak hukum (APH) di Jateng, untuk memberantas penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika,” pungkas Benny.

Sementara terpisah, Gubernur Jateng, Ganjar Pranowo saat diminta pendapatnya terkait peredaran narkotika di Jateng, meminta agar seluruh elemen pemerintahan berkolaborasi dalam pemberantasan narkotik dan onbat-obatan terlarang (narkoba). Terlebih setelah mengetahui modus operandi yang digunakan pengedar narkoba, yang makin nekat dan tidak masuk akal.

“Peran pemerintah daerah, dibutuhkan oleh BNNP untuk memberikan dukungan pada pemberantasan narkoba. Karena pemberantasan narkoba, tidak bisa diserahkan kepada aparat penegak hukum, kepolisian maupun BNN saja, melainkan seluruh elemen harus terlibat,” tandasnya.

#NarkobaBNNJatengsemarang
Comments (0)
Add Comment