Permainan Tradisional Edukatif Jadi Pilihan Isi Masa Belajar Jarak Jauh

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Topan Hariyono, kepala UPT SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan (Lamsel) menyebut kreativitas siswa jadi alternatif pengusir kebosanan. Sejumlah permainan tradisional edukatif jadi alternatif siswa saat sistem pelajaran jarak jauh (PJJ).

Topan Hariyono, Kepala UPT SDN 1 Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (19/8/2020). Foto: Henk Widi

Peran orangtua dalam menyiapkan sejumlah permainan edukatif dapat menghilangkan ketergantungan pada gawai.  Selingan kegiatan bermain bagi siswa selama berada di rumah mendorong anak anak bermain gim online. Kondisi tersebut mengurangi interaksi sosial dengan teman sebaya.

“Evaluasi dari orangtua terkait penggunaan kuota internet jadi alasan PJJ atau dalam jaringan memakai android dikurangi selanjutnya diganti dengan kegiatan kegiatan belajar luar jaringan sesuai rekomendasi Dinas Pendidikan Lamsel,” terang Topan Hariyono saat dikonfirmasi Cendana News,Kamis (20/8/2020).

Kegiatan PJJ yang tetap bisa diikuti siswa dengan difasilitasi pelajaran dari TVRI. Kegiatan belajar tatap muka sendiri masih menunggu keputusan Dinas Pendidikan Lamsel. Sebab selama pandemi Covid-19 kegiatan PJJ masih akan digelar hingga akhir Agustus. Meski berada di zona hijau KBM di sekolah belum dilakukan.

“Pelajaran akademik tetap dijalankan meski sistem jarak jauh namun dunia bermain anak tetap diberi ruang,” cetusnya.

Nurizki, ketua Komunitas Rumah Bermain pegiat dan pemerhati permainan tradisional Lampung menyebut tingkat kebosanan siswa meningkat selama pandemi Covid-19. Sejumlah permainan edukatif bisa menjadi alternatif agar anak anak bisa berinteraksi dengan teman sebaya. Sejumlah permainan yang bisa dilakukan dengan tetap berada di rumah di antaranya dacon, bekel, lompat tali.

“Sejumlah permainan tradisional selain memiliki nilai edukatif tentunya berfungsi untuk olahraga, agar anak tetap aktif,” cetusnya.

Pendisiplinan dari orangtua untuk pengaturan waktu belajar dan bermain sangat penting dilakukan. Sebab selama masa PJJ anak dominan memakai gawai untuk sejumlah tugas sekolah.

Nurizki menyebut kreativitas dari orangtua, tenaga pendidik dengan metode belajar tepat akan efektif diterapkan selama masa PJJ. Namun dengan tetap memberikan kesempatan anak anak bermain mendorong peningkatan sisi kognitof, motorik dan interaksi sosial bagi anak anak. Sebab selain akademis anak anak didorong meningkatkan nilai sosial.

“Secara psikologis anak anak yang belajar di rumah akan mengalami kebosanan sehingga butuh alternatif positif salah satunya permainan,” cetusnya.

Pitka ,salah satu anak menyebut memilih menyelingi kegiatan belajar di rumah dengan bermain dakon. Usai sejumlah tugas sekolah dikerjakan ia mengisi waktu luang dengan bermain. Sejumlah tugas yang diperoleh dari guru menurutnya kerap diantar ke rumah dalam bentuk tulisan. Keterbatasan orangtua di wilayah pedesaan membuat sistem kunjungan diterapkan.

“Anak anak dikumpulkan pada satu rumah lalu diberi tugas nanti diantar ke guru memakai sepeda,” cetusnya.

Usai mengerjakan tugas Pitka dan kawan kawannya kerap memilih bermain di dalam rumah. Hal yang sama dilakukan oleh rekan rekan lain dengan bermain gasing dan layangan. Sebelum ada pengumuman kegiatan belajar mengajar tatap muka Pitka dan kawan kawannya tetap belajar di rumah dengan kewajiban mengerjakan tugas pada semester ganjil yang diberikan guru kelas.

lampung selatanLamselPermainan Tradisional
Comments (0)
Add Comment