Permintaan Batang Pinang yang Nihil Tetap Untungkan Petani

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Sejumlah petani di Lampung Selatan (Lamsel) kerap diuntungkan jelang Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI. Namun untuk tahun ini sedikit berbeda, namun petani tetap mendapatkan keuntungan dari sisi lain.

Syarifudin, warga Desa Tamanbaru, Kecamatan Penengahan menyebut HUT RI Ke-75 tahun ini tidak ada pembeli batang pinang miliknya. Meski tidak ada pembelian ia mengaku tidak rugi bahkan justru tetap mendapat untung.

Keuntungan mempertahankan tanaman pinang disebutnya cukup banyak. Tanaman tersebut berfungsi menjaga tanah longsor, menghasilkan buah sekaligus menyimpan air. Buah yang bisa dipanen sepanjang musim menurutnya tetap bisa menghasilkan. Pinang muda digunakan sebagai obat dan yang tua dipakai sebagai bahan kosmetik, batik.

Tahun sebelumnya sepekan sebelum Agustusan ia menjual belasan pohon. Pembeli merupakan pengepul untuk dijual kembali di Jakarta dan sekitarnya. Meski tidak ada permintaan Syarifudin tetap bisa mendapat hasil puluhan kilogram buah pinang per pohon.

“Pohon yang dijual kerap sudah tidak produktif sehingga bisa ditebang namun tahun ini karena sedang Covid-19 sejumlah perlombaan ditiadakan, salah satunya panjat pinang, gebuk bantal sehingga permintaan tidak ada sama sekali,” terang Syarifudin saat ditemui Cendana News, Selasa (11/8/2020).

Penanaman pohon menurut Syarifudin sejatinya untuk pagar pembatas antar kebun. Penggunaan untuk peringatan HUT RI marak jika desa atau organisasi akan menggelar perlombaan. Menjual sebanyak 4 batang saja ia menyebut bisa mengantongi hasil sekitar Rp1 juta, bahkan lebih.

Buah pinang muda menurutnya kerap dicari oleh pemilik usaha kuliner minuman. Berkhasiat sebagai obat minuman jus buah dengan campuran lain kerap diminati warga.

“Pohon pinang masih tetap memberi nilai ekonomis bagi pemilik tanpa harus menebangnya,” papar Syarifudin.

Warsih, pemilik sejumlah pohon pinang di Desa Padan,Kecamatan Penengahan mengaku tahun ini permintaan batang tanaman itu nihil. Normalnya sepekan sebelum peringatan HUT kemerdekaan kerap dibeli warga. Beralihnya sejumlah perlombaan yang tidak menimbulkan kerumunan saat pandemi Covid-19 ikut mempengaruhi permintaan.

“Permintaan yang nihil untuk batang pinang pastinya tidak ada pengaruh, justru menguntungkan karena masih bisa dipanen,” cetusnya.

Warsih, salah satu petani pemilik pohon pinang mengaku menjual buah kering seharga Rp8.000. Menjual sebanyak 100 kilogram saja ia bisa mendapat hasil Rp800 ribu. Sebagai bahan pembuatan cairan batik, bahan kosmetik dan obat, buah pinang jadi komoditas alternatif. Ditanam sebagai pohon pagar ia masih bisa mendapatkan hasil dari tanaman yang disebut jebuk atau jambe itu.

Yanto,salah satu warga Bakauheni menyebut batang pinang dipakai untuk panjat pinang dan gebuk bantal. Namun tahun ini perlombaan tersebut dibatasi sebab permainan tersebut harus melakukan kontak fisik dengan sejumlah orang. Lomba gebuk bantal di atas sungai kecil menurutnya masih tetap bisa dilakukan karena dimainkan oleh dua orang. Ia hanya memakai dua batang pinang yang diperoleh dari kebun warga tanpa harus membeli.

Batang PinangLampungLamsel
Comments (0)
Add Comment