Pokmaswas Pedan Wutun Setia Lakukan Konservasi Penyu

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LARANTUKA – Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) merupakan kelompok yang terdapat di desa-desa pesisir di Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk melakukan konservasi laut.

Salah satu kelompok yang tekun melaksanakan konservasi laut yakni Pokmaswas Pedan Wutun di kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat dengan menjaga karang, menjaga laut dari aktivitas pengeboman ikan dan menangkap ikan dengan alat tangkap yang merusak ekosistem laut.

“Perairan di Selat Lewotobi kaya akan habitat penyu dan ikan serta mamalia laut yang dilindungi,” kata Kristoforus Werang, Ketua Pokmaswas Pedan Wutun, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Flores Timur, NTT, Senin (10/8/2020).

Kristoforus Werang, Ketua Pokmaswas Pedan Wutun, Kelurahan Ritaebang, Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur, NTT, saat ditemui, Senin (10/8/2020). Foto: Ebed de Rosary

Kristo katakan, dirinya bersama anggota kelompok tertarik melakukan konnservasi laut terutama penyu karena pernah beberapa kali penyu terjaring di pukat hanyut miliknya dan dilepas.

Ia berkata, beberapa kali penyu dan ikan yang dilindungi tersangkut di pukat hanyut dan berhasil dilepas di laut atau dibawa ke pesisir pantai laut dilepaskan dengan memotong beberapa bagian pukat.

“Ini yang membuat kami 12 orang sepakat untuk melakukan konservasi penyu mengingat perairan di sebelah utara Pulau Solor atau Selat Lewotobi merupakan habitat penyu,” tuturnya.

Kristo akui pihaknya telah mendapatkan pelatihan dari ahli yang didatangkan LSM Misool Baseftin Flores Timur untuk memberikan pelatihan kepada semua anggota Pokmaswa.

Pihaknya tidak mengambil semua telur di sarang usai penyu bertelur saat malam tetapi biasanya menyisakan 5 butir telur di lubang dan ditutup kembali.

Kalau diambil semua kata dia, akan membuat penyu tersebut tidak akan kembali bertelur di pantai tersebut karena merasa tidak aman telurnya diambil orang.

Setelah diambil lanjut Kristo, telur dibawa ke lokasi penetasan dan ditanam di dalam lubang di pasir. Ia jelaskan, butuh waktu 48 atau 49 hari untuk telur penyu agar bisa menetas.

Setelah menetas, sambungnya, penyu atau tukik tersebut pun langsung dilepas ke laut saat malam hari agar tidak dimangsa oleh predator. Total sudah ribuan telur penyu yang ditetaskan oleh kelompoknya.

“Total sudah 8.590 telur penyu yang ditetaskan sejak tahun 2016 sampai akhir Juli 2020. Sebanyak 76 persen atau sebanyak 6.598 telur yang telah berhasil menetas dilepas ke laut,” ungkapnya.

Kepala Kantor Misool Baseftin Flores Timur, Evi Ojan mengatakan, Pokmaswas Pedan Wutun sejak dahulu selalu konsisten dalam melakukan konservasi penyu di Pulau Solor.

Ada juga Pokmaswas Jalur Gaza di Desa Sulewaseng Kecamatan Solor Selatan yang juga telah melakukan hal serupa namun aktivitas tidak berjalan normal dan hanya ketua kelompok dan istrinya yang aktif.

“Kami selalu memberikan edukasi dan pelatihan kepada Pokmaswas dalam kegiatan konservasi laut di perairan Flores Timur. Kita mengagandeng Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten flores Timur maupun Provinsi NTT,” terangnya.

NTTpenyupukatSarangtelur
Comments (0)
Add Comment