Varian Rasa Cara Tingkatkan Minat Konsumsi Kopi

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Tren minum kopi jadi salah satu pendongkrak permintaan bubuk kopi di Lampung Selatan (Lamsel). Penambahan varian rasa ikut serta dalam meningkatkan minat masyrakat.

Tri Budianto, produsen kopi Krakatoa Coffee di Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, Sabtu (29/8/2020). Foto: Henk Widi

Tri Budianto, produsen kopi khas Gunung Rajabasa dengan merk Krakatoa Coffee menyebut tambahan variasi rasa dilakukan saat biji dibuat menjadi bubuk. Varian rasa lain yang disukai lainnya meliputi rumput laut, gula aren, jahe merah.

Penjemuran konvensional menggunakan sinar matahari menjadi salah satu cara mendapatkan kualitas yang baik. Alternatif proses pengeringan lanjutan untuk menurunkan kadar air dilakukan dengan memakai alat pemanas dan penyangrai dengan cara tradisional memakai drum berbahan bakar kayu.

“Proses pengeringan menjadi biji kopi yang disangrai atau roasting memakai alat elektrik menjadikan biji lebih bersih dan memiliki aroma khas, selanjutnya akan dikombinasikan dengan berbagai variasi rasa sesuai selera pasar,” terang Tri Budianto saat dikonfirmasi Cendana News,Sabtu (29/8/2020)

Varian rasa jahe merah atau Zingiber officinale dibuat dengan proses pencampuran bubuk kopi dan jahe. Seperti pada pencampuran dengan rumput laut, gula aren, ginseng jahe yang telah dibuat menjadi bubuk akan ditakar. Perbandingan dan bahan campuran dibuat dengan takaran tepat tanpa menghilangkan dominasi rasa kopi.

“Rasa kopi tetap dominan namun sensasi rumput laut, ginseng, jahe merah akan tetap dirasakan ketika bubuk diseduh,” bebernya.

Khasiat yang diyakini memiliki dampak positif bagi kesehatan berupa rumput laut dan jahe merah. Varian rasa kedua jenis kopi tersebut dijual seharga Rp25.000 ukuran 200 gram. Rasa jahe merah dijual seharga Rp25.000 untuk ukuran 200 gram.

Selain menjual dalam bentuk kopi bubuk,memenuhi permintaan ia juga menyediakan biji kopi (bean) yang sudah disangrai seharga Rp20.000 ukuran 200 gram.

“Biji kopi yang telah disangrai kerap dibeli oleh pemilik kafe yang akan menyajikannya dengan alat penggiling sesaat sebelum disajikan,” cetusnya.

Hasil produksi dijual oleh Budi secara offline dan online. Secara offline ia menjualnya pada sejumlah warung dan kedai kopi. Sistem penjualan sebagai oleh oleh dilakukan pada gerai rumah kreatif Bakauheni dan gerai Dekranasda Lampung Selatan yang ada di terminal eksekutif Bakauheni. Ia bisa mendapat omzet ratusan ribu per pekan.

Hendrik, salah satu barista atau peracik di gerai Dekranasda Lamsel menyebut tren meminum kopi terus meningkat. Kopi Lampung Selatan atau Kolase menjadi salah satu varian yang diminati.

“Kopi arabica asal gunung Rajabasa dominan disajikan dengan varian rasa original dan campuran susu, coklat, jahe merah, cappucino, mocca dan lainnya,” bebernya.

Hendrik menyebut menjual segelas kopi mulai harga Rp10.000 hingga Rp15.000. Penikmat kopi bisa memesan sembari menikmati suasana yang ada di terminal eksekutif Bakauheni.

Syarifudin, penikmat kopi menyebut telah mencicipi berbagai jenis varian. Sejumlah kopi asal Aceh, Jambi hingga Sulawesi menurutnya telah dirasakannya. Namun dalam kondisi saat ini ia memilih menikmati varian rasa jahe merah. Sebab berkhasiat menjaga stamina tubuh. Rasa hangat jahe merah berpadu dengan kopi menjadi salah satu varian rasa yang disukainya.

Gunung RajabasaKopilampung selatan
Comments (0)
Add Comment