Warga Lamsel Manfaatkan Tanaman Umbi di Masa Sulit

Editor: Koko Triarko

LAMPUNG – Kebutuhan bahan pangan nonberas bisa menjadi  alternatif bahan makanan saat ekonomi sedang sulit. Sebagai solusi penghematan, berbagai jenis tanaman pangan pun bisa menjadi pilihan untuk meminimalisir ketergantungan pada beras.

Sipon, warga desa Pasuruan, Penengahan, Lampung Selatan, mengaku menanam bahan makanan berupa suweg, pepaya, pisang dan sayuran, sebagai alternatif beras. Saat musim kemarau, tanaman suweg kerap tidak terlihat. Menyerupai porang dan walur.

Ia memanfaatkan umbi suweg yang diolah dengan cara direbus sebagai bahan makanan alternatif. Tanaman yang bisa bertahan hingga bertahun-tahun tersebut memiliki sumber karbohidrat yang baik sebagai pengganti nasi.

Sipon, warga Desa Pasuruan, Kecamatan Penengahan, Lampung Selatan, memanfaatkan pekarangan untuk menanam suweg, sejenis umbi yang enak dimakan, pepaya, pisang dan berbagai jenis bahan pangan lainnya, Selasa (11/8/2020). -Foto: Henk Widi

Kebutuhan berbagai jenis sayuran, menurutnya bisa disediakan dengan cara menanam. Meski memiliki lahan terbatas di sawah, ia juga menanam genjer, kangkung. Hasil panen sayuran dari kebun dan sawah bisa dipergunakan untuk kebutuhan harian dan sebagian bisa dijual. Namun untuk bahan pangan suweg, tidak banyak orang memanfaatkannya sebagai bahan pangan.

“Saat ini yang lebih dikenal jenis porang yang bentuknya mirip, namun suweg yang saya tanam masih tersimpan di tanah, dengan munculnya sejumlah tunas menjadi pertanda keberadaan umbi bisa saya panen saat akan dibutuhkan,” terang Sipon, saat ditemui Cendana News, Selasa (11/8/2020).

Pemanfaatan pekarangan dan kebun sebagai sumber ketahanan pangan, sebut Sipon, menjadi hal biasa bagi warga pedesaan. Selain bahan pangan pokok, ia juga masih bisa menanam berbagai jenis tanaman bumbu. Meliputi serai, jahe, dan kunyit. Menanam pepaya dan singkong menjadi bahan sayuran yang daunnya juga bisa dimanfaatkan.

Pemanfaatan pekarangan sebagai solusi memperoleh bahan pangan juga dilakukan Suyatinah. Warga asal Gunung Kidul, Yogyakarta yang menetap di Lamsel itu, mengaplikasikan pemanfaatan lahan dengan tanaman bahan pangan.

Pernah mengalami sulitnya hidup di wilayah yang sulit melakukan penanaman saat kemarau, membuat lahan sempit dimanfaatkan olehnya.

Jenis tanaman penghasil bahan makanan yang dibudidayakan meliputi singkong, pisang, talas, dan uwi. Singkong atau ubi kayu ditanam di lahan sebagai penahan longsor lahan miring.

Penanaman bahan pangan, disebutnya cukup mudah. Jenis singkong dengan kayu, uwi dengan umbi dan talas dengan umbi. Cara penanaman yang mudah sekaligus menjadi cadangan makanan nonberas.

“Bahan pangan bervariasi jenis uwi, singkong, talas, merupakan alternatif pengganti nasi dengan nilai gizi yang nyaris sama,” terang Suyatinah.

Sistem penanaman tumpang sari di lahan miliknya, menurut Suyatinah berpotensi menjadi cadangan bahan makanan. Selain singkong, ia menanam pisang yang bisa dipanen sebagai bahan pembuat kuliner. Selain bisa menjadi bahan pangan bagi keluarga, pisang dan singkong bisa dijual. Penggunaan bahan pangan alternatif, bisa menjadi cadangan menunggu panen padi.

Menanam talas pada pekarangan juga dilakukan oleh Suyatinah. Bahan pangan yang memiliki kandungan karbohidrat tinggi itu memiliki berbagai varian. Jenis talas mbote bisa direbus untuk pengganti nasi. Jenis talas bentul bisa digunakan bagian daun untuk sayuran dan pakan ikan. Daun talas, menurutnya bisa menjadi alternatif pakan mengurangi pakan pabrikan.

Memiliki lahan terbatas juga digunakan untuk membudidayakan ikan jenis lele mutiara, yang bisa dipanen setiap tiga bulan untuk kebutuhan keluarganya. Meski hanya memanfaatkan kolam terpal dan semen, budi daya ikan lele bisa menjadi cara mendapatkan asupan protein. Memelihara lele sekaligus menjadi tempat untuk memelihara sayuran seledri, kangkung dan daun bawang.

berasLampungLamselPanganpetaniumbi
Comments (0)
Add Comment