Zona Merah, Sekolah Tatap Muka di Kota Semarang Masih Belum Dilakukan

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Meski pelaksanaan pembelajaran secara langsung belum dilakukan, namun Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Semarang sudah menyiapkan konsep sekolah tatap muka di tengah pandemi covid-19.

“Sejauh ini, kita masih menerapkan program belajar dari rumah (BDR), belum ada sekolah yang melakukan proses belajar mengajar (PBM) secara langsung atau tatap muka. Namun meski demikian, kita sudah menyiapkan konsepnya seperti apa, jika tetap akan dilaksanakan sekolah tatap muka,” papar Kadisdik Kota Semarang, Gunawan Sapto Giri di Semarang, Kamis (6/8/2020).

Dalam konsep tersebut, tidak semua siswa dalam satu sekolah akan mengikuti PBM dalam waktu yang sama. Hal ini sesuai dengan protokol kesehatan, yang mengharuskan adanya jaga jarak dan tidak berkerumun.

“Jumlah siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka dalam satu kelas, dikurangi. Misalnya separuh kapasitas kelas, dengan sistem masuk bergantian setiap hari,” paparnya.

Selain itu, durasi dan jam pelajaran juga akan dipangkas, setidaknya separuh dari jam pelajaran normal. “Siswa berangkat, masuk kelas dan mengikuti pembelajaran. Tidak ada jam istirahat, karena waktunya sudah kita pangkas. Nanti setelah pulang sekolah, mereka juga tidak boleh berkerumun,” tandasnya.

Dari segi kurikulum, selain penyampaian materi reguler dalam Kurikulum 2013 (K13), pihaknya juga akan memasukkan pembelajaran terkait pencegahan penyebaran covid-19.

“Materi tersebut wajib diberikan ke pelajar jika pembelajaran tatap muka diizinkan dibuka. Termasuk, penguatan karakter siswa, yang saat ini kita nilai masih kurang maksimal, selama proses BDR,” tandasnya.

Skenario pembelajaran tatap muka di tengah pandemi covid-19 tersebut dipersiapkan, karena pemerintah pusat sudah mewacanakan membuka pembelajaran secara langsung. Kemendikbud menyerahkan penyesuaian kurikulum kepada guru dan kepala sekolah, sesuai dengan konsep merdeka belajar.

Sementara, Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memaparkan, sekolah wilayahnya dapat menerapkan pembelajaran tatap muka apabila telah memenuhi beberapa tahapan.

“Pertama, pembelajaran tatap muka baru bisa dilaksanakan apabila berada di zona hijau. Sementara saat ini, Kota Semarang masih masuk zona merah. Kemudian persyaratan SOP kesehatan di lingkungan sekolah, harus dipenuhi terlebih dahulu. Selain itu, sekolah juga harus mendapatkan izin dari orang tua siswa apabila akan menerapkan kembali pembelajaran tatap muka. Jika belum terpenuhi, sebaiknya tetap secara daring terlebih dulu,” terangnya.

Di satu sisi, meski belajar dari rumah, namun siswa harus tetap harus diberi motivasi agar tidak kehilangan kesungguh-sungguhannya dalam belajar. Termasuk, bagaimana keterlibatan guru dalam menciptakan kondisi pembelajaran, dibarengi dengan keterlibatan orang tua menciptakan suasana rumah yang tidak mengganggu pembelajaran.

Terpisah, salah satu orang tua siswa, Nining Abidin, mengaku mendukung pelaksanaan BDR, meski ada kelebihan dan kekurangannya. Menurutnya, lebih baik tetap dilaksanakan BDR, sebab memudahkan pengawasan bagi anak. Terlebih saat ini, anak sulungnya yang sudah bersekolah baru duduk di kelas 3 SD.

“Agak sulit untuk melakukan pengawasan bagi anak, jika mereka sudah berkumpul bersama teman-temannya. Jadi kalau masih zona merah, lebih baik tetap dengan BDR,”pungkasnya.

Belajar dari RumahJatengSekolah Tatap Mukasemarang
Comments (0)
Add Comment