Bersihkan Lahan, Petani Lamsel Pertahankan Teknik Tebas Bakar

Redaktur: Satmoko Budi Santoso

LAMPUNG – Petani di Kabupaten Lampung Selatan (Lamsel) masih mempertahankan teknik tebas bakar untuk pembersihan lahan.

Mutijo, petani jagung di Desa Sri Pendowo, Kecamatan Ketapang menyebut proses pembakaran lahan dilakukan untuk efisiensi. Menggunakan teknik perun atau pembersihan dengan mengumpulkan batang jagung lalu dibakar.

Proses perun dengan membakar limbah pertanian menurutnya kerap dilakukan oleh petani di wilayah tersebut. Ia beralasan teknik tebas bakar dilakukan untuk menghemat biaya. Sebab dengan proses membakar ia bisa membersihkan rumput basah dan kering. Ia bisa melakukan proses penghematan untuk membeli herbisida.

Proses membakar limbah pertanian disebutnya menyebabkan polusi asap. Sebagai solusi untuk mengurangi asap ia memilih melakukan proses pembakaran secara bertahap.

Mutijo juga menyebut telah menyiapkan ember berisi air untuk menyiram api agar tidak merembet ke lahan milik petani lain. Usai dibakar lahan akan diolah untuk proses penanaman berikutnya.

“Meski musim kemarau lahan masih bisa dimanfaatkan untuk penanaman komoditas kedelai dan kacang tanah yang tidak membutuhkan air terlalu banyak. Abu proses pembakaran rumput dan limbah tanaman jagung bisa menjadi pupuk,” terang Mutijo saat ditemui Cendana News, Senin (21/9/2020).

Pembakaran lahan untuk penanaman berikutnya dipilih Mutijo karena jauh dari permukiman. Lahan seluas satu hektare menurutnya butuh waktu sepekan lebih untuk pembersihan. Namun dengan teknik tebas bakar ia bisa menghemat waktu dan tenaga. Biaya untuk proses perun yang dilakukan oleh buruh dengan sistem borongan mencapai ratusan ribu per hari.

Proses perun atau pembersihan lahan menurut Mutijo lebih praktis. Sebab sejumlah gulma jenis rumput liar akan lebih mudah musnah. Sejumlah petani di wilayah tersebut meyakini proses pembakaran akan menyuburkan tanah. Usai proses pembakaran lahan penambahan pupuk kandang, dolomit atau zat kapur untuk kesuburan tanah.

“Petani memanfaatkan musim kemarau untuk membakar lahan agar lebih mudah untuk pengolahan lahan meski mengesampingkan polusi akibat asap,” cetusnya.

Sistem tebas bakar yang dipertahankan petani diakui Ajun Inspektur Dua Safit Adi. Aktivitas tebas bakar yang dilakukan oleh petani menurutnya berpotensi mengakibatkan polusi.

Aipda Safit, Bhabinkamtibmas Polsek Penengahan, Polres Lamsel mengimbau petani agar mengurangi teknik tebas bakar untuk mengurangi polusi, Senin (21/9/2020) – Foto: Henk Widi

Terlebih lokasi lahan pertanian berada di tepi jalan lintas yang selalu dilintasi kendaraan. Langkah persuasif dilakukan oleh Aipda Safit Adi dengan meminta petani mengurangi aktivitas membakar lahan.

Aktivitas membakar lahan yang dilakukan Mutijo menurut Bhabinkamtibmas Polsek Penengahan tersebut harus dihentikan. Sebab selain berimbas pencemaran lingkungan berpotensi merembet ke lahan pertanian produktif. Sosialisasi pencegahan kebakaran lahan disebutnya dilakukan agar petani mengurangi teknik tebas bakar.

“Pembersihan lahan bisa dilakukan dengan teknik mengubur dalam lubang atau menumpuknya hingga busuk sehingga polusi asap bisa dihindari,” tegasnya.

Mengacu pada pasal 26 Undang Undang Nomor 18 Tahun 2004 Tentang Perkebunan pembakaran lahan dilarang. Sebab mengacu pada pasal tersebut dijelaskan setiap usaha perkebunan, pertanian dilarang membuka dan atau mengolah lahan dengan cara pembakaran. Selain berimbas pencemaran udara, proses tersebut merusak fungsi lingkungan hidup.

Lokasi lahan pertanian yang digarap oleh Mutijo menurut Aipda Safit Adi berada di kawasan Register 1 Way Pisang. Meski sebagian lahan pertanian jauh dari permukiman warga namun asap berpotensi mengganggu penerbangan. Sebagian lahan pertanian di wilayah tersebut menjadi lahan penanaman karet, pisang dan kelapa.

“Sudah diberi peringatan kepada petani sehingga memahami dampak negatif dari teknik tebas bakar,” cetusnya.

Sosialisasi pencegahan kebakaran hutan terus dilakukan Polsek Penengahan. Sistem tebas bakar yang dilakukan petani mulai bisa diminimalisir dengan aktifnya personel Polsek ke sejumlah lahan pertanian. Aipda Nurkholis, kanit Binmas Polsek Penengahan menyebut selain sosialisasi lisan telah dilakukan pemasangan spanduk.

Spanduk imbauan larangan membakar lahan diletakkan pada sejumlah titik lahan pertanian. Musim tanam saat kemarau masih diterapkan petani untuk penyiapan lahan dengan teknik tebas bakar.

Solusi menghindari pembakaran lahan disebutnya bisa dilakukan dengan pengumpulan limbah batang jagung pada satu lokasi. Pemanfaatan batang untuk pakan ternak sekaligus jadi solusi meminimalisir pembakaran.

lahanLampungPembakaranpetani
Comments (0)
Add Comment