Buang ke Sungai dan Bakar Limbah Pertanian Masih Jamak di Lamsel

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

LAMPUNG — Aktivitas pembersihan limbah pertanian dengan cara membuang ke sungai dan membakar masih jamak dilakukan petani di Lampung Selatan. Alasan efesiensi waktu dan biaya jadi faktor kecenderungan melakukan aktivitas mencemari lingkungan itu.

Jayadi, petani di Sripendowo, Kecamatan Ketapang menyebut membuang limbah batang jagung ke kali Siring Dalem.

Sungai batas alam antara Desa Karangsari dan Desa Sripendowo itu menurutnya jadi lokasi favorit membuang limbah pertanian. Selain batang jagung yang dibuang ke sungai berupa tongkol sisa pemipilan.

Sisa limbah pertanian yang tidak dibuang ke sungai akan dibakar. Pembakaran limbah pertanian kala kemarau meski mengakibatkan asap jadi pilihan petani. Sebab limbah mudah kering sehingga butuh waktu singkat untuk membersihkan batang dan tongkol. Ia juga yakin abu proses pembakaran bisa dijadikan pupuk.

“Limbah pertanian yang tidak lekas dibersihkan bisa menjadi sarang hama tikus, sebagian dibuang ke sungai agar cepat membusuk karena tercampur air, bisa lebih cepat terurai,” ungkap Jayadi saat ditemui Cendana News, Rabu (23/9/2020).

Faktor kelestarian lingkungan menurutnya dikesampingkan. Pasalnya persoalan lingkungan telah menjadi hal klasik di wilayah tersebut. Terlebih kawasan Register 1 Way Pisang yang semula merupakan wilayah hutan telah berubah menjadi lahan pertanian.

Membakar lahan untuk penanaman jagung juga dilakukan Mutijo, warga Desa Sripendowo. Ia beralasan petani lain juga melakukan hal serupa. Hemat tenaga dan biaya jadi alasan baginya membersihkan lahan dengan cara dibakar.

“Tidak akan merembet ke kebun tetangga karena telah dibersihkan sehingga tidak ada tanaman mudah terbakar,” cetusnya.

Pembenaran diri oleh sejumlah warga yang mengabaikan lingkungan diakui Aipda Safit Adi Wiyanto. Ia menyebut melakukan langkah persuasif kepada petani agar meminimalisir kerusakan lingkungan. Aktivitas membakar lahan disebutnya bisa menyebabkan titik panas atau hot spot yang terpantau satelit.

Pendangkalan sungai imbas aktivitas membuang limbah jerami sebut Aipda Safit terjadi di sejumlah sungai. Sungai Siring Dalem, Kali Supi, Sungai Way Pisang jadi lokasi pembuangan limbah pertanian. Sedimentasi sungai saat kemarau sebutnya semakin parah berimbas pasokan air akan berkurang. Sosialisasi telah dilakukan kepada petani agar tidak mencemari aliran sungai.

“Penjelasan persuasif dilakukan agar mudah dipahami hingga petani beralih ke cara ramah lingkungan,”tegasnya.

Sumaidi, petani padi di Desa Pasuruan,Kecamatan Penengahan mengaku masih membakar jerami. Pembakaran dilakukan mempercepat pembersihan lahan terutama kala kemarau. Butuh waktu dua bulan lebih untuk memusnahkan jerami dengan cara pembusukan. Meski berimbas polusi ia tidak meninggalkan cara tersebut karena lebih hemat biaya.

Pemanfaatan jerami untuk pupuk organik dan pakan dilakukan Saefudin, petani di Desa Tanjung Heran. Meski dekat sungai Way Pisang ia enggan membuang jerami ke bantaran sungai. Gantinya ia membuat kotak penampungan dari bambu untuk jerami yang akan dibusukkan. Jerami akan dicampur dengan pupuk kandang, zat pembusuk sehingga berubah jadi tanah subur.

“Sungai yang dicemari limbah pertanian, sampah rumah tangga larinya ke laut akan mencemari lingkungan,” tegasnya.

Sebelum jerami dimanfaatkan sebagai pupuk ia tetap memberi kesempatan bagi peternak. Sebab pemilik ternak akan mencari pakan jerami yang masih hijau. Sebagian sisa jerami akan dimanfaatkan olehnya sebagai pupuk organik. Tanpa proses pembakaran jerami bisa dimanfaatkan untuk menjaga kesuburan tanah. Kala kemarau jerami bisa ditebarkan pada lahan dicampur pupuk kandang.

KarangsariketapangLampunglampung selatan
Comments (0)
Add Comment