Kemasan Produk UMKM Pengaruhi Harga dan Minat Beli Konsumen

Redaktur: Muhsin Efri Yanto

SEMARANG — Banyak UMKM yang tetap bertahan di tengah pandemi covid-19. Konsumen loyal, hingga harga jual produk yang kompetitif, menjadi kunci keberhasilan UMKM untuk terus eksis.

Namun, di lain sisi, ada satu hal yang masih kurang diperhatikan oleh para pelaku UMKM, untuk dapat menaikkan harga tawar produk mereka, yakni label kemasan.

“Produk boleh sama, namun dengan penampilan berbeda. Harga jual bisa lain. Termasuk produk tahu tempe. Jika dikemas dengan baik, harga tahu tempe yang selama ini diproduksi UMKM bisa dijual dengan harga yang lebih tinggi,” papar praktisi sekaligus dosen Desain Komunikasi Visual Unnes, Wandah Wibawanto di Semarang, Selasa (22/9/2020).

Dipaparkan, selama ini tampilan tempe hanya dibungkus plastik atau daun pisang, sementara untuk tahu dengan plastik bening.

“Untuk memperluas pasar tempe dan tahu UMKM, sangat logis apabila sebuah produk tersebut diberi kemasan berlabel,” terangnya.

Dijelaskan, dengan adanya label kemasan atau nama produk, konsumen akan lebih mudah menentukan pilihannya. Di satu sisi, hasil produk UMKM terkait juga bisa laris terjual.

“Misalnya saya pergi ke pasar atau supermarket, mau beli tempe atau tahu. Ketika tidak ada label, pasti bingung, dengan sekian banyak produk yang sama. Namun saat ada label, saya bisa langsung pilih produk A atau B. Agar bisa menjadi pilihan, kemasan label ini harus dibuat secara menarik,” tambahnya.

Konsep sederhana yang perlu dipertimbangkan, dalam desain kemasan tempe dan produk lainnya adalah nama produk mudah diingat, mudah dibaca, bentuknya baik dengan warna kontras, maksimal 3 warna.

Selain itu, ilustrasi menarik dengan kelengkapan informasi yang dipunyai UMKM, juga bisa ditambahkan untuk meningkatkan nilai tawar. Misalnya informasi tentang izin produk industri rumah tangga (PIRT), sertifikasi halal, dan lainnya yang telah ada, dicantumkan dalam kemasan.

“Kualitas bagus, dikemas dengan baik, maka harga jual naik. Memang di lain sisi, kemasan ini juga harus mempertimbangkan segmen pasar yang dituju, karena berkaitan dengan ongkos produksi,” tambahnya.

Terpisah, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Jateng, Ema Rachmawati, memaparkan selama ini, memang ada beberapa kendala yang dihadapi oleh para pelaku UMKM di Jateng, termasuk di sektor usaha tahu tempe.

“Salah satu tantangan dari UMKM itu, mereka relatif belum bisa menarasikan atau menceritakan produk yang dijual. Hal ini yang perlu diperbaiki. Misalnya usaha tahu tempe, harus bisa bercerita bahwa kedelai yang digunakan bagus, pengolahannya bersih, kualitas produk yang dihasilkan bagus dan halal,” terangnya.

Selain itu, soal perizinan. Minimal untuk UMKM makanan, harus sudah ada PIRT, sehingga memberi perlindungan keamanan pangan yang dihasilkan.

“Saat ini, untuk mengurus PIRT bisa dilakukan secara online dan gratis. Kita berikan dukungan kepada pelaku UMKM yang ada di Jateng. Termasuk bagi yang mau mengurus label halal, hingga merek dagang, bisa kita dampingi,” tambahnya.

Terkait kemasan label pada produk UMKM, pihaknya juga setuju untuk terus didorong agar kesadaran tersebut tumbuh. “Jika diberi kemasan, dinarasikan dengan bagus, harga jual produk pasti naik, meski yang dijual sama-sama tempe atau tahu. Sudah banyak buktinya, ini yang kemudian kita dorong bagi pelaku UMKM di Jateng,” paparnya.

Di lain pihak, Ema menandaskan, dalam upaya memberdayakan perajin atau UMKM tempe di Jateng, pihaknya saat ini tengah mengembangkan budidaya kedelai di lima koperasi unit desa (KUD) dengan luas area mencapai 50 hektare.

“KUD tersebut tersebar di wilayah penghasil kedelai di Jateng, yakni Grobogan, Cilacap dan Pati,” terangnya.

Selain itu, pihaknya juga melakukan pendidikan dan pelatihan terkait penguatan kelembagaan Koperasi Tempe dan Tahu Indonesia (Kopti), melalui pelatihan perkoperasian dan peningkatan kualitas produk, pelatihan pembuatan produk makanan berbahan baku tempe, pelatihan manajemen usaha, desain kemasan serta pelatihan digitalisasi usaha.

“Kita berharap dengan beragam upaya tersebut, mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil produksi UMKM tahu tempe di Jateng,” pungkasnya.

JatengsemarangUMKM
Comments (0)
Add Comment