Pantai Labuhan Jukung Alternatif Menghabiskan Akhir Pekan di Lampung Selatan

Editor: Mahadeva

LAMPUNG – Tawaran destinasi wisata bahari cukup beragam di Lampung Selatan (Lamsel). Labuhan Jukung, bisa menjadi salah satunya. Pantai di pesisir Barat Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, meski belum setenar sejumlah pantai lain, pantai tersebut bisa menjadi pilihan untuk menghabiskan akhir pekan.

Ardy Yanto, warga Desa Kelawi menyebut, Pantai Labuhan Jukung kondisinya masih alami. Pantai tersebut sering hanya dimanfaatkan nelayan untuk menambatkan perahu atau jukung. Dari Jalan Lintas Sumatera (Jalinsum), bisa ditempuh dengan jarak sekira empat kilometer.

Upaya pembenahan akses jalan oleh warga, mempermudah upaya menuju lokasi. Sebelumnya, akses jalan tanah dan berbatu, menyulitkan wisatawan untuk datang. Hanya penghobi memancing dengan kendaraan jenis trail yang bisa sampai lokasi.  “Labuhan Jukung selama ini jarang dikunjungi wisatawan, padahal suasana keindahannya tidak kalah menarik dengan pantai-pantai di Desa Kelawi. Sejak pandemi Covid-19, mulai banyak dikunjungi karena kondisi alam yang masih alami,” terang Ardy Yanto, kepada Cendana News, Minggu (13/9/2020).

Pantai Labuhan Jukung cocok untuk wisata minat khusus, seperti wisata petualangan (adventure) dengan melakukan trekking. Perjalanan diawali dari Dusun Kayu Tabu, wisatawan bisa berjalan kaki melintasi bukit pematang Indah. Pilihan wisata lain adalah, menggunakan motor trail, yang bisa dipandu warga setempat.

Anak anak bermain di pantai Labuhan Jukung menikmati ombak yang tenang serta air yang jernih, Minggu (13/9/2020) – Foto Henk Widi

Penghobi memancing di pantai tersebut biasa menggunakan tekhnik koyor. Mereka memilih lokasi pantai Labuhan Jukung, karena memiliki spot pertemuan arus, barat dan timur. Hal itu membuat ikan pelagis dan ikan demersal atau perairan, bisa mudah diperoleh. “Sebagian penghobi menyebut, kawasan Labuhan Jukung menjadi lokasi strategis untuk memancing ikan jenis giant travelly,” tandasnya.

Pantai belum dikelola komersial dan masih bisa diakses secara gratis. Belum adanya pengelola, yang secara khusus merawat pantai, membuat masyarakat melakukan pengelolaan secara swadaya. Dengan gotong-royong, warga membuka akses jalan dengan membeli semen, pasir. Hal itu diharapkan dapat mempermudah pengunjung sampai ke lokasi.

Untuk mencapai lokasi, panduan dari warga lokal sangat diperlukan, karena banyaknya jalan setapak yang terkadang bisa membingungkan wisatawan. Sebagaian pantai memiliki kontur bebatuan hitam, pasir ditumbuhi vegetasi tanaman yang rindang dengan kesejukan udara yang sangat terasa. Seperti pada umumnya pantai di sisi barat Lampung Selatan, jejak-jejak saksi bisu letusan Gunung Krakatau purba dengan kedahsyatan tsunami-nya masih terlihat. Batuan hitam yang merupakan endapan lava, terlihat dicengkeram oleh sejumlah tanaman pandan, bakau dan vegetasi pantai. “Jejak tsunami pada 2018 silam juga masih terlihat, dengan adanya pelampung yang tersangkut pohon,” cetusnya.

Pantai berpasir putih, berair jernih disebut Ardy Yanto, cocok untuk wisata keluarga. Anak-anak memiliki bagian bermain di kawasan yang landai berjarak puluhan meter. Selama masa belajar dari rumah, anak-anak desa setempat bisa lebih banyak menikmati suasana pantai.  Selain bermain anak-anak bisa mencari kerang jenis kima dan teripang untuk dikonsumsi. Aktivitas rekreatif dengan memancing ikan, bisa dikombinasikan pengunjung dengan kegiatan bancakan.

Ardy Yanto,warga Dusun Kayu Tabu,Desa Kelawi,Kecamatan Bakauheni,Lampung Selatan menikmati rekreasi bersama dengan bakar ikan di pantai Labuhan Jukung,Minggu (13/9/2020) – Foto Henk Widi

Bancakan merupakan aktivitas makan bersama warga, dengan membakar ikan di pantai. Makanan dinikmati dengan berbagai jenis sambal. Keakraban dan kebersamaan saat berwisata semakin terasa saat bancakan dilakukan sembari menikmati angin laut. “Bosan berada di rumah selama pandemi Covid-19,pantai bisa jadi alternatif untuk dikunjungi,” tandas Ardy Yanto.

Rohana, salah satu pengunjung pantai Labuhan Jukung menyebut, memilih akhir pekan ke pantai tersebut. Sebagai tenaga pendidik di salah satu sekolah ia menyebut, tingkat kebosanan masyarakat terutama anak,-anak meningkat. Pasalnya selama masa belajar dari rumah ia jarang bertemu dengan murid. Biasa melakukan aktivitas belajar mengajar secara langsung membuat rekreasi ke pantai jadi pilihan.

Rohana tidak sendiri, ia mengajak serta kerabatnya. Menikmati suasana pantai dengan membawa bekal nasi, sambal pekhos dan lalapan. Ikan yang dibakar bisa diperoleh dari pancingan suami, atau membeli hasil tangkapan nelayan.  Sembari mengajak anak anak bermain di pantai, usai ikan selesai dibakar makan bersama atau bancakan menjadi kegiatan menyenangkan. “Rekreasi di pantai Labuhan Jukung jadi kegiatan murah meriah karena semua fasilitas masih gratis,” cetusnya.

lampung selatanpantai labuhan jukungwisata
Comments (0)
Add Comment